Tampilkan postingan dengan label A Alasan mengoleksi Jam Antik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Alasan mengoleksi Jam Antik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 November 2010

Usia Jam Boleh Tua, Tapi (Sebaiknya) Masih Bagus

Seorang yang mulai menggemari jam antik biasanya melalui beberapa fase, dan biasanya fase yang pertama adalah "asal antik-beli!", terlepas dari kualitas jam, kemulusan dan ke-otentikannya. Wajar saja karena semangat masih tinggi dan kemauan belajar masih besar sehingga proses membeli jam antik yang tidak otentik, rusak, atau bahkan palsu dianggap sebagai biaya pembelajaran. Fase berikutnya, biasanya mulai selektif baik dari segi kualitas jam antik yang hendak dibeli atau juga merek atau tema yang hendak jadi fokus utama. Ada yang mulai menyadari bahwa ketertarikannya terhadap jam chronograph demikian besar sehingga dia hanya mencari, membeli dan mengoleksi jam chronograph antik. Atau mulai fokus dari segi budget, misalnya hanya membeli jam antik yang tidak lebih dari sekian juta harganya. Macam-macamlah fokus yang hendak dipilih.

Postingan kali ini bertutur mengenai kualitas jam antik yang hendak kita koleksi. Saya buat inti posting ini adalah "boleh tua, asal bagus dan mulus". Karena buat apa simpan jam tua kalau kondisinya sudah rusak. Definisi 'rusak' disini adalah kondisi diluar proses alami sebuah jam tua seperti dial rusak karena karat, casing rusak karena pernah penyok atau movement yang bermasalah terus. Jam oleh saja berusia tua tapi sebaiknya kondisi juga diperhatikan karena nilainya di masa depan akan lebih baik. Saya sendiri sekarang sudah mulai sangat selektif untuk membeli jam antik yang hendak saya koleksi karena saya tidak mau membuang uang banyak untuk sebuah jam antik yang kalau dipakai membuat kening saya (dan juga orang lain) berkerut karena kondisinya yang 'tidak menyenngkan' untuk dilihat. Tentu saja kriteria atau standar 'mulus dan bersih' bagi setiap orang berbeda-beda. Bisa jadi malah ada orang yang bangga dan senang dengan koleksinya yang terlihat kusam tapi karena memang itu terjadi karena proses alami dan bukan karena cacat.

Gambar jam dibawah adalah sebagian contoh dari kondisi jam tua yang menurut saya masih bagus dan mulus (menurut standar saya tentunya). Usia jam boleh tua, tapi saat dipakai tidak kalah penampilannya dengan jam yang usianya jauh lebih muda!

King SEIKO Day-Date produksi tahun 1974.

ROLEX Datejust Thunderbird Ref.1625, produksi awal tahun 70-an.

UNIVERSAL Polerouter Date gold capped, tropical dial, produksi tahun 60-an.

CITIZEN Chronograph Automatic, produksi pertengahan tahun 70-an

OMEGA Speedmaster "The Moonwatch" Cal.861 produksi tahun 1973

SEIKO Automatic Chronograph "The BIG Blue" Cal.6138. produksi tahun 1974.

Sabtu, 06 November 2010

Apakah Semua Jam Antik Bernilai Tinggi?

Seringkali saya mendapat sms, telepon dan email dari seseorang yang menawarkan sebuah jam antik. ang membuat saya kaget adalah jenis jam yang ditawarkan dan harga yang diminta. Sebuah email berbunyi "Saya punya jam Seiko 5 antik sekali peninggalan orang tua. Katanya sih produksi 50 tahun lalu dan masih berfungsi sampai sekarang. Sangat bernilai tinggi. Saya menawarkan hanya Rp.15 juta saja". Ada beberapa hal yang menurut saya nggak cocok dengan informasi yang diberikan. Jam-nya adalah Seiko 5 dan berumur 50 tahun, padahal 50 tahun lalu Seiko 5 belum ada dan kedua adalah harganya yang asking "Rp.15 juta saja". Bagaimana mungkin sebuah Seiko 5 antik bisa berharga 15 juta? karena saya penasaran, akhirnya saya minta foto dari jam yang katanya berumur 50 tahun. Ternyata seiko 5 yang dimaksud adalah produksi tahun 1974!

Ada lagi yang menawarkan sebuah jam Enicar antik seharga 40 juta. Bagaimana bisa seseorang menentukan harga sebuah Enicar automatic biasa harganya sama dengan sebuah Rolex Submariner? Atau sebuah jam Mido Multifort antik yang dihargai Rp.10 juta. Bagaimana bisa seseorang memberi harga jam antik yang mereka punyai jauh diatas harga pasaran yang standard?

Kemungkinannya adalah orang berpikir bahwa sebuah jam antik pastilah mahal, bahkan bisa lebih mahal dari jam model baru. Jawaban ini tidak sepenuhnya benar karena sangat tergantung dari merek, model dan material jam tersebut. Seperti halnya benda-benda antik lain, tidak semua jam antik memiliki value yang tinggi. Yang saya maksud tinggi disini adalah harga yang ekstrem. Tapi kalau dibilang harganya selalu naik, hal itu banyak benarnya karena ketersediaan jam antik semakin lama semakin sedikit karena memang mereka bukanlah produk yang terus diproduksi. Apalagi kalau sebuah jam antik yang kondisinya masih bagus. Contohnya, jam Titus 77 jewels diatas yang kondisinya masih bersih dan mulus serta otentik, maksudnya movement yang digunakan memang untuk Titus 77 jewels yang banyak memiliki jewels yang tidak fungsional sebanyak 77 buah, bukan jam Titus 77 tapi menggunakan movement Titus biasa. Untuk jam-jam biasa tapi dengan kodisi seperti itu saya yakin nilai-nya akan semakin tinggi walau peningkatannya tidaklah signifikan setiap tahunnya. Saya ingat sekali saat pertama kali membeli jam2 Titus seperti itu beberapa tahun lalu sekitar Rp.300 ribu, itupun kayaknya berat sekali beli jam Titus seharga itu. Tapi untuk kondisi sekarang orang mau beli diatas sejuta untuk jam Titus yang sama dalam kondisi bagus dan otentik.

Dari pengalaman saya mengoleksi jam antik sejak tahun 1997 menunjukkan bahwa apresiasi orang terhadap sebuah jam antik semakin tinggi. Bukti yang paling nyata adalah dengan semakin banyaknya blog, website atau forum2 dunia maya yang mempunyai fokus pada jam antik, baik hanya sekedar memajang koleksi ataupun jual-beli. Hal ini wajar saja karena memang dunia jam antik ini sangat menarik (tentunya bagi yang suka) dan bisa jadi peluang bisnis yang baik asalkan kita memiliki sumber supplier yang baik, pengetahuan mengenai jam antik yang cukup dan network yang luas. Apresiasi yang meningkat ini berdampak secara signifikan kepada demand jam antik yang meningkat dan tentu saja terkait langsung dengan harga dari jam antik itu sendiri. Apalagi demand meningkat tidak disertai dengan pasokan jam antik karena memang jumlahnya yang terbatas.

Bagi seseorang yang sejak lama memiliki dan mengoleksi jam antik hal ini merupakan peluang untuk mendapatkan gain yang besar dari koleksinya. Apalagi kalau koleksi yang dimiliki semua dalam kondisi bagus dan terawat, orang akan dengan senang hati membayar dengan harga yang lebih tinggi, karena peluang untuk mendapatkan sebuah jam antik dalam kondisi bagus semakin sulit. Seorang teman penggemar jam antik pernah menjual banyak koleksinya bukan karena alasan finansial tapi karena bosan, dan untk hal itu dia memang mendapatkan gain yang baik dari nilai uang yang pernah dia keluarkan sebelumnya untuk membeli jam-jamnya. Tapi ketika rasa rindu akan jam antik muncul dan hendak membeli jam-jam antik dia mengalami kesulitan karena kualitas barang yang ada tidak sesuai dengan standar-nya akan jam antik dan terlebih lagi karena harganya yang sudah jeuh lebih mahal.

Kembali ke soal value jam antik. Saat ini ada beberapa brand yang dipahami sebagai brand yang memiliki value yang bagus untuk disimpan. Diantaranya adalah Omega, Seiko dan Rolex, dalam konteks jam antik. Tentu saja merek2 seperti Patek Philippe, Breguet, VC termasuk dalam kategori itu, hanya saja kita disini bicara merek yang seringkali keberadaannya masih kita jumpai. Rolex masih menjadi pilihan utama karena merek ini sudah seperti komoditas yang paling likuid untuk 'diuangkan' ketika ada kebutuhan mendesak, karena semua orang dari mulai orang dusun sampai kelompok elite mengenal brand ini. Memang saat beberapa tahun lalu Rolex terutama tipe sport antik mengalami kejatuhan yang luar biasa dalam harga karena imbas dari krisis di Amerika dan Eropa, sebagai pasar terbesar dari Rolex jenis ini. Karena itu harga tipe tersebut turun banyak dan karena itu banyak orang bilang bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk membeli dan menyimpan Rolex sport antik karena dalam waktu dekat nilainya akan naik lagi seiring dengan berakhirnya krisis di zona tersebut.

Menurut saya, mengumpulkan dan mengoleksi jam antik bisa jadi merupakan sebuah sarana investasi yang baik asalkan kita bisa selektif dalam memilih koleksi kita. Merek-merek yang mainstream seperti Titus, Mido, Rado, mega, Seiko, Rolex dll masih banyak bisa kita jumpai di kalangan penggemar jam antik, tapi sebaiknya pilihlah jam antik yang masih dalam kondisi baik dan berfungsi. Jadi tidak "asal antik lantas dibeli" karena value sebuah jam antik juga terkait dengan kondisi jam-nya. "Investasi" yang saya maksud disini juga bukan maksudnya investasi yang memberikan gain besar dalam waktu singkat. Karena dunia jam antik bukan seperti bursa saham atau valuta asing yang kadang bisa memberikan gain yang besar dalam waktu pendek. Akan lebih menyenangkan jikan anda tidak melulu memikirkan sisi 'investasi' dalam koleksi jam antik anda, tapi lebih fokus pada menikmati koleksi yang anda miliki sekarang dan peningkatan nilai yang terjadi anggaplah sebagai 'bonus'.

Selasa, 05 Januari 2010

Fase 4: Lebih pasif dan mendalami merek kesukaan

Dalam Fase ini seseorang sudah lebih mature dalam meng-koleksi dan jenis koleksinya. Koleksi utamanya mungkin hanya 2 atau 3 brand dan fokus dengan mengumpulkan dari jenis-jenis yang berbeda. Pada fase ini seseorang tersebut juga mulai pasif dalam melakukan hunting jam antik, tapi lebih mengandalkan networking yang sudah dibentuk selama sekian tahun berkecimpung dalam hobby ini. Mungkin karena waktu untuk hunting yang semakin sedikit, atau karena dia tahu kalau ada barang bagus biasanya langsung dijajakan person to person dan tidak lewat media kios lagi. Atau juga (dan ini yang paling sering), jaringan yang sudah dia bentuk sudah tahu betul jenis dan standard jam yang dia cari, jadi begitu ada jam yang masuk dalam kriteria tersebut, si penjual tersebut akan langsung berikan. Salah satu konsekuensi dari hubungan ini adalah, terkadang kita membeli jam dari pemasok tersebut dari merek-merek yang bukan merupakan fokus kita, tapi jam-jam itu tetap dibeli karena untuk menjada hubungan dengan sang pemasok. Karena kalau kita seringkali menolak jam-jam yang dia tawarkan, bisa jadi lain waktu dia akan memasok ke orang lain.

Karena jaringan yang sudah terbangun baik dengan pedagang maupun sesama penggemar, maka 'pasokan' jam antik selalu saja ada walaupun tidak sesering waktu masih belum fokus. Saya sendiri, saat ini koleksi saya lebih banyak merupakan 'hibah-bermahar' dari sesama penggemar jam antik. Saya lebih nyaman bertransaksi demikian karena saya tahu standar dan kualitas koleksi teman sesama pe-hobi, sehingga tidak ada keraguan atau ketakutan mendapatkan barang palsu atau rusak. Setidaknya kalau dengan sesama penggemar ada rasa tidak enak kalau memberi jam yang tidak bagus kualitasnya. Media lain untuk mendapatkan jam antik yang kita inginkan adalah melalui acara kumpul bareng (Pasar Arloji) yang sudah beberapa kali diadakan oleh komunitas ini. Pada saat acara kumpul-kumpul ini pasti saja ada koleksi yang berpindah tangan baik lewat lelang ataupun jual langsung. Atau kalau tidak, kita lihat mana jam yang kita suka dan lakukan pendekatan personal dengan yang punya...

Karena merek yang jadi fokus sudah tertentu maka segalama jenis jam dari merek yang sama sebisa mungkin dikumpulkan juga. Alhasil, bisa saja seseorang memiliki beberapa buah jam yang sama atau mirip sekali. Contohnya gambar di bawah. Seorang rekan yang fokus pada merek Omega memiliki 6 buah Omega Seamaster dari tahun 70-an yang desainnya sama! tentu saja dengan semakin meningkatnya maturitas dalam meng-koleksi, standar jam yang akan dikoleksi juga meningkat kualitas kemulusannya.

Hal lain yang dilakukan seorang hobbyist jam antik pada fase ini adalah semakin menambah pengetahuan mengenai jam yang menjadi fokus koleksinya. Kegiatan mengeksplorasi merek tersebut melalui internet, buku maupun diskusi dengan rekan sesama hobbyist dapat menambah pengetahuan dan apresiasi terhadap merek-merek tersebut.

Terkadang seseorang yang sudah sedemikian lama bergulat dengan jam antik akan mengalami masa-masa bosan juga. Mungkin bosan dengan jenis jam yang dia miliki atau bosan dengan dunia jam antik itu sendiri. Kalau nggak kuat diri, maka yang terjadi koleksi jam yang sekian banyak itu pelan-pelan akan semakin berkurang karena dijual. Repotnya kalau keinginan untuk koleksi muncul lagi, akan menjadi repot karena semakin sulit untuk bisa mendapatkan kembali jam-jam antik dalam kondisi bagus. Saya yakin banyak dari teman saya yang saat ini tidak pernah lagi melihat koper-koper yang berisi jam-jam antik mereka, karena bosan. Tapi mereka tidak menjualnya, hanya disimpan saja. Dan saat ini lebih asyik bermain-main dengan jenis jam lain yang bisa jadi keluar atau malah berbeda sekali dengan tema koleksi utama mereka. Misalnya, mempelajari G-shock atau jam-jam jenis baru lainnya.

Salah satu kemungkinan yang terjadi pada fase ini adalah, jenis koleksi yang semakin spesifik dan unik. Hal ini dialami oleh beberapa rekan (dan mungkin juga saya). Misalnya saja, ingin mengoleksi Rolex antik yang memiliki jarum jenis pedang (dauphine hands) atau daun (leaf hands). Biasanya jenis Rolex seperti ini merupakan produksi sebelum tahun 1970. Memang Rolex jenis ini bagi saya lebih cantik dan berkarakter daripada Rolex generasi setelahnya yang menggunakan jarum model batang yang digunakan sampai sekarang. Konsekuensi dengan keinginan mengoleksi jam jenis ini adalah keberadaannya yang jauh lebih jarang dari tipe yang biasa dan kondisinya tentu sangat jarang pula yang bagus.

mahal ini.Atau bisa juga karena merasa 'jenuh' dengan koleksi yang ada, maka seorang hobbyist itu membuat 'tema sempalan' yang berbeda sama sekali. Contohnya seperti gambar dibawah. Tema baru dalam koleksinya adalah semua jam dengan dial warna hitam, apapun merek-nya yang penting dialnya hitam. Untuk tema baru ini kemungkinan untuk bisa mendapatkan jam yang sesuai dengan kriterianya lebih besar karena tidak merujuk pada meek-merek tertentu saja. Tema lain yang pernah coba saya lakukan adalah mengoleksi jam dengan tema Diver, tidak peduli jam itu baru atau antik, yang penting jam diver! tapi tema-tema baru itu akhirnya memang tidak bertahan lama karena hanya untuk mengisi kejenuhan saja, sedangkan koleksi utama tetap tak terganggu. Hal ini juga dilakukan oleh teman pertama saya dalam koleksi jam antik ini, meskipun koleksi utamanya adalah Rolex dan Omega, tapi saat-saat ini dia juga membeli merek-merek low-end lama seperti Titus, Nelson dll dalam kondisi yang sangat bagus. Mungkin perlu juga dilakukan hal-hal seperti ini agar ada variasi dalam kegiatan/ hobi yangmahal ini.

Sabtu, 02 Januari 2010

Fase 3: Lebih Fokus, Selektif dan 'Naik Kelas'

Kecenderungan untuk lebih fokus pada Fase 3 ini semakin besar, hal ini kemungkinan didasari atas analisa yang mendalam terhadap sebuah merek, kecintaan akan jenis jam tertentu, ada nlai sentimentil terhadap brand tersebut atau juga dilihat dari sisi investasi. Seperti halnya seorang rekan yang fokus utamanya adalah Rolex antik terutama yang sport seperti GMT, Submariner dan Explorer. Gambar diatas adalah beberapa buah koleksinya dari seri Rolex GMT. Keyakinan akan nilai investasi yang lebih pasti dibandingkan merek lain yag sejenis membuatnya memutuskan untuk fokus hanya pada tipe-tipe Rolex sport antik saja. Dan memang pendapatnya cukup valid dilihat dari pengalamannya selama ini, merek Rolex lebih 'gampang dijual' daripada merek lain. Jam Rolex sudah tidak ada bedanya dengan komoditas lain yang memiliki tingkat likuiditas tinggi.

Pada tingkatan ini, terjadi juga apa yang disebut sebagai 'naik kelas'. Seperti halnya sekolah yang selalu ada kenaikan kelas setiap tahun. Dalam mengkoleksi jam antik juga mengenal 'kenaikan kelas'. Seseorang yang awalnya mulai mengoleksi dari merek-merek low-end mulai melirik ke merek mid-end yang tentu saja setelah melihat perkembangan kemampuan finansial. Naik kelas ini bisa saja berpindah orientasi merek atau juga dalam satu merek yang sama tapi tipe yang berbeda yang tentu saja lebih mahal. Contoh naik kelas dalam satu merek: Beberapa rekan yang memang sejak awal menggemari Rolex seri entry level seperti Oysterdate dan Datejust, mulai melirik ke tipe lain yang dianggap kelasnya lebih tinggi dari tipe yang dia miliki sebelumnya. 'Lebih tinggi' disini bukan berarti keluaran produk yang lebih muda, tapi bisa juga malah produksi yang lebih tua, atau tipe yang sama sekali berbeda. Contohnya adalah Thunderbird 1625 seperti pada gambar dibawah. Tipenya sama-sama Datejust tapi karena penggunaan rotating bezel membuat tipe Datejust ini seperti sekelas lebih tinggi dari datejust biasa yang seusia dan memang harga tipe ini di pasaran international juga lebih tinggi dari tipe datejust biasa dan semakin naik setiap tahun.
Contoh 'naik kelas' lain dalam satu merek adalah seperti contoh jam dibawah, sebuah Grand Seiko antik produksi awal tahun 70-an. Grand Seiko (GS) adalah kasta tertinggi dalam jajaran produk Seiko. karena memang seiko membuat jam untuk segala lapisan segmen pasar. Untuk mendapatkan sebuah GS keluaran baru di toko tidak cukup hanya dengan dana Rp.20 juta, apalagi untuk sebuah GS dengan feature GMT dihargai Rp.54 juta di sebuah Agen resmi Seiko di Jakarta. Karena itu GS antik menjadi sasaran utama karena harganya sangat jauh dibandingkan dengan harga yang baru. Walaupun kalau dibandingkan dengan harga seiko tipe lain, harga GS ini juga jauh lebih mahal. Seorang rekan bilang, kalau belum punya GS seolah belumlah afdol disebut sebagai penggemar Seiko!. Seorang rekan yang saya tahu pasti fans berat Seiko berkeras untuk titip kepada rekan yang lain untuk membelikan sebuah Seiko Diver di Jepang. Karena untuk mendapatkannya di Indonesia saat itu sulit sekali karena agen resmi belum memasukkannya ke Indonesia. Dan begitu jam sudah diterima, rasa penasarannya terbayar sudah karena memang jam itu bagus sekali baik dari segi desain maupun dari kualitas buatannya.

Untuk mendapatkan sebuah GS antik jauh lebih sulit dan menantang daripada mendapatkan GS keluaran baru (tentu kalau uang bukan lagi jadi kendala). Keberadaan GS di Indonesia tidak banyak diketahui. Mungkin banyak yang punya tapi semuanya hampir samar dan tersembunyi. Sebagian besar rekan yang memiliki GS atau seiko high-end lain mendapatkannya dari luar negeri seperti Hong Kong, Jepang atau melalui ebay. GS juga tidak banyak diketahui oleh para pedagang tradisional jam terutama di kota-kota di luar Jakarta. Seorang rekan mendapatkan GS day-date di sebuah pasar loak dengan mahar sebesar Rp.400 ribu saja karena si penjual menganggap GS ya sama saja dengan Seiko jenis lain. Dia jual 400 ribu juga karena di case back ada emas nya!
Kalau naik kelas lintas merek sudah lah lazim. kalau awalnya gemar mengumpulkan Mido, sekarang mulai melirik Omega antik tapi koleksi Mido tetap dilanjutkan. Atau awalnya koleksi Titus, mulai melirik ke Rolex dan semua koleksi Titus dan Titoni (karena biasanya merek ini berpasangan dikoleksi) dijual untuk bisa mendapatkan sebuah Rolex. Atau kalau sudah awalnya koleksi Rolex, mulai melirik ke merek-merek seperti Jaeger, Vacheron dll.

Saat diri sudah merasa (cukup) puas dengan semua koleksi yang dimiliki, atau karena sudah sangat jarang ditawari jam antik lagi maka biasanya mulai ada kejenuhan dengan koleksi yang ada. Entah jenuh karena merasa koleksinya itu-itu aja atau karena ingin cari tantangan lain dengan mulai meng-eksplorasi merek lain. Bisa saja merek lain yang baru akan dimasuki itu dari merek-merek dan jenis jam yang juga antik atau malah dari merek-merek baru. Seperti jam dibawah ini. Panerai memang fenomenal. Saya bukan bicara mengenai produknya tapi apa yang terjadi dengan mereknya. Tidak butuh waktu lama bagi merek ini untuk bisa mencuri perhatian para penggemar jam sampai akhirnya terpikat dan menjadi penggemar fanatik: Paneristi. Tidak ada sebuah brand-pun yang memiliki jaringan penggemar fanatik seperti Panerai Tidak sedikit suara yang mengatakan bahwa eforia Panerai tidak akan lama karena ini hanya booming sesaat saja, tapi juga masih banyak yang yakin bahwa merek ini bakal semakin kuat dalam dunia horologi. Entah mana yang benar, kita lihat saja perkembangannya. Tapi saya akui memang jam Panerai itu khas dan unik..

Saat ini kondisi sudah sangat berbeda. Peran internet terutama blog rekan-rekan pe-hobi jam antik semakin banyak dan semakin banyak pula yang akhirnya terpikat untuk kemudian terjun untuk menggeluti hobi ini. Banyak yang sudah yakin dengan keputusan akan hobi barunya, tapi tidak sedikit juga yang masih ragu dan masih melihat situasi. Karena peminat semakin banyak sedangkan pasokan jam tidak banyak berubah, akhirnya hukum ekonomi supply-demand berjalan. Harga mulai beranjak naik dengan pasti, bahkan untuk beberapa merek dan tipe naiknya terasa signifikan. Namun tidak semua jam antik berharga mahal dan memiliki value tinggi. Saya beberapa kali mendapatkan email atau sms yang menawarkan sebuah jam antik dari merek Seiko atau Mido yang harganya mencapai belasan hingga puluhan juta. Mungkin si pengirim beranggapan jam antik itu sama dengan benda antik pada umumnya yang memiliki nilai tinggi, atau juga email yang menawarkan jam antik yang ternyata setelah dilihat dengan seksama adalah jam antik palsu atau franken-watch. Semakin banyak penikmat dan pengumpul jam antik akan terbuka juga peluang bisnis memalsukan jam antik itu sendiri. Dan kalau tidak hati-hati kita akan berulang kali kejeblos di lubang yang sama. Untuk itu bagi setiap orang yang saya tahu baru mulai menggemari hobi ini selalu saya sarankan: BUY THE SELLER NOT THE WATCH..!

Fase 2: Sudah Mulai Tahu Orientasi Koleksi

Setelah mengalami fase AAS (Asal Antik Sikat), biasanya seseorang akan mulai kebingungan sendiri melihat begitu banyak jam antik yang sudah dibeli dari berbagai macam merek dan tipe. Bahkan seorang rekan menunjukkan kepada saya di 2 laci besar di ruangan kantornya penuh berisi begitu banyak jam antik dari banyak merek dan jenis. Kemungkinan yang terjadi adalah, seseorang mulai punya keinginan lain agar koleksinya lebih punya tema. Bisa saja ke homogen-an itu dari sisi merek atau jenis jam tertentu misalnya jam rusia semua, atau jam sport dll. Kecenderungan ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal. Bisa saja karena jatuh cinta dengan merek atau jenis jam tertentu, suka karena modelnya yang unik, antusias karena harganya yang relatif terjangkau dengan variasi model yang banyak atau juga karena ikut-ikutan teman. Seorang rekan konsisten untuk mengumpulkan jam merek GARUDA karena merek ini unik, ada 'bau Indonesia', harga relatif terjangkau dan desainnya unik. Dan ternyata memang jarang yang fokus untuk mengoleksi jam merek ini.

Karena orientasinya sudah jelas (atau hampir jelas), maka perburuan pun mulai fokus. Menurut saya dengan mencoba fokus kepada satu atau beberapa merek akan menguntungkan kita dari sisi: a. Kita jadi tahu merek apa saja yang kita buru, b. dana akan lebih selektif untuk dikonsumsi untuk hobi, c. pengetahuan kita akan merek yang kita fokus kan menjadi lebih dalam, daripada harus belajar sekian banyak merek.

Hal yang saya alami dan saya kira juga banyak rekan se-hobi yang lain adalah mau untuk membeli jam antik merek yang kita fokuskan meskipun dalam keadaan yang belum 'siap pakai' karena mungkin movement-nya mati, dial-nya rusak atau beberapa komponennya yang hilang. Kalau saya saat itu beranggapan masih bisa 'menghidupkan' jam itu kembali dengan minta bantuan kepada teman tukang service jam. Karena memang ada kepuasan yang luar biasa ketika saya berhasil 'menghidupkan' kembali jam antik yang saya beli dalam keadaan mati atau tidak lengkap. Namun tidak banyak jam antik yang memberi saya kepuasan luar biasa seperti itu. Contohnya adalah jam seiko di bawah. Saya suka sekali jam ini karena termasuk generasi awal Seiko Sportsmatic day-date. Saat itu saya lihat casing yang aslinya gold plated sudah mulai hilang lapisan gold-nya dan ada bagian dari dial yang sudah mengelupas. Saya berpikir, sambil jalan saya akan cari casing jam tipe ini yang masih bagus juga dialnya karena toh mesin jam ini masih bagus dan jalan akurat. Ternyata perkiraan saya salah! bahkan sampai saat inipun saya belum lagi lihat tipe jam yang sama dalam keadaan bagus. Akhirnya jam Seiko yang saya beli Rp.150 ribu sekitar setahun lalu tetap tidak berubah sampai sekarang!

Kasus kedua ini memiliki happy ending. Awalnya saya menemukan sebuah 6139-6002 di sebuah kios cetak sablon dalam keadaan mati. tapi kodisi casing, dial yang berwarna kuning, rantai original, sampai pepsi bezelnya masih bagus. terutama pepsi bezelnya yang masih belum luntur sama sekali. Saat itu jarum sudah diganti dengan jarum asal-asalan, kenop chrono hilang satu dan feature day-date sama sekali tidak berfungsi. Kebetulan saya kenal seorang tukang service handal di Pasar Senen. Saya serahkan saja jam itu beserta foto dari internet dari tipe jam yang sama sebagai panduan dia dalam melakukan restorasi jam itu sampai selesai. Butuh waktu 3 bulan untuk mengembalikan seperti bentuk sesuai foto dibawah ini, porsi waktu yang paling lama adalah service movement-nya yang ternyata ada beberapa spare parts yang tidak lengkap. Penantian 3 bulan terbayar karena jam jadi jauh lebih bagus dari awal saya beli, semua komponen asli dan movement yang bekerja dengan baik!

Tapi lama kelamaan saya berpikir dan mencoba berhitung mengenai kegiatan 'restorasi' ini.Ya kalau hasilnya memuaskan sih nggak apa-apa, segala effort terbayar. Tapi kalau tidak? nah ini yang berabe. Ucapan seorang teman sesama pe-hobi sangat benar mengenai hal ini (bagi saya lho), bahwa kalau jam antik tidak bisa bekerja seperti seharusnya, sama saja dengan besi tua. Buktinya nggak usah jauh-jauh, saya sendiri masih ada beberapa jam yang tidak bisa diperbaiki dan akhirnya memang disimpan saja sebagai besi tua. Saya hanya berharap menemukan jam sejenis untuk bisa saya kanibal bagian-bagian yang masih bisa digunakan.

Saya akan kasih gambaran apa yang akan terjadi saat membeli jam antik yang tidak siap pakai:

1. Kita akan luangkan waktu bolak-balik keluar masuk pasar, tukang-tukang service untuk bisa cari parts yang bisa digunakan dalam jam antik kita yang perlu restorasi. Berapa banyak waktu, biaya transport dll yang kita keluarkan untuk itu. Kalau anda punya waktu luang banyak sih nggak apa-apa lah..lha kalau bekerja 8 to 5?...

2. Tidak semua kerusakan sebuah jam antik bisa diperbaiki dan kembali seperti kondisi seharusnya. Terutama untuk jam-jam chronograph, sangat dihindari membeli dalam kondisi fungsi chronographnya tidak bekerja dengan baik karena spare parts lebih sulit didapat. Jadi peluang untuk menjadi besi tua lebih besar lagi.

3. Harga spare parts untuk jam-jam tertentu seringkali lebih mahal daripada parts untuk movement generik seperti buatan ETA yang bisa kanibal dari jam lain. Misalnya Omega, saat ini semakin sulit untuk bisa mendapatkan parts omega antik karena memang omega tidak lagi memproduksi parts ini sedangkan stok lama mereka lama kelamaan pasti akan semakin sedikit. Komponen lain selain parts yang semakin sulit didapat adalah bezel untuk jam diver atau chronograph, jarum jam dan dial. Seringkali seorang teman membeli sebuah jam chronograph dengan kondisi bezel tachymeter yang sudah rusak dengan harapan bisa mencari dan membelinya dari tukang service jam. Dan sudah bisa dipastikan usahanya akan berbuah sangat lama..

Tentu kita beli jam antik untuk disimpan dan dipakai, bukan lebih banyak disimpan di laci seorang tukang service untuk diperbaiki atau di-rekondisi, apalagi apesnya kalau ujung-ujungnya tukang service itu bilang "nggak bisa diperbaiki mas..jual aja lagi!"..walah!

Memang tidak bisa disama-ratakan dengan apa yang saya tulis disini dengan preferensi atau anggapan orang lain. Ada juga teman yang beranggapan justru dalam proses hunting (jam maupun parts) dan menghidupkan jam antik kembali itulah sensasinya! memang betul!...tergantung dari diri anda dari sisi mana memandang hobi koleksi jam antik ini. Kalau saat ini, saya hobi mengumpulkan jam antik ini untuk dipakai dan bukan untuk diobrak-abrik, dibedah atau di rekondisi.

Nah, setelah ketahuan preferensi koleksi mau kemana, biasanya perburuan makin intens pada merek-merek itu saja. Standard pun mulai dinaikkan. Kondisi menjadi prioritas utama karena itu tidak heran terkadang untuk satu jenis jam sampai punya beberapa buah dan semuanya dalam kondisi bagus!!

Phase-Phase dalam mengumpulkan Arloji Antik: Phase 1

Kegemaran saya dalam mengumpulkan jam tangan antik bermula pada tahun 1997. Saat itu saya diberi sebuah jam merk Titus antik dalam keadaan masih bagus. Saat itu saya heran sekaligus takjub, karena jam itu jarum detiknya tidak berdetak tapi bergulir dengan halus. Ketakjuban saya bertambah setelah saya buka case back jam itu ternyata tidak ada batre-nya seperti jam lain, melainkan sekumpulan parts yang bergerak mekanik secara teratur. Bagi saya, pergerakan mekanis parts itu begitu menyenagkan untuk dilihat dan dikagumi. Apalagi setelah saya tahu bahwa jam itu dibeli pakdhe saya pada tahun 1951 seharga Rp.50. Sejak saat itu kegandrungan terhadap jam-jam antik semakin tinggi dan berubah menjadi sebuah hobi yang menggairahkan.
Posting kali ini saya ingin menceritakan sebuah pengalaman dari diri saya mengenai hobi ini. Karena saya lihat ada beberapa rekan yang kelihatannya memiliki fase-fase yang sama dengan yang saya alami. Posting ini hanyalah pendapat pribadi dan saya yakin banyak dari anda yang memiliki pendapat dan pengalaman berbeda dengan yang saya alami.
Fase 1: Eforia perburuan dan mengumpulkan jam antik

Memang 'kegilaan' akan jam antik semakin tinggi karena jam antik bukan lagi dipandang sebagai penunjuk waktu, tapi bisa juga sebagai bukti sejarah dari masa lalu, perkembangan desain dan teknologi,ostalgia terhadap suatu masa dan salah satu penanda suatu perubahan peradaban. Karena itu saat awal mengoleksi sampai sekarang masalah akurasi bukanlah merupakan prioritas utama saya dalam memilih jam antik untuk dimiliki. Kalau dapat jam antik yang akurasinya masih bagus ya syukur kalau nggak (tapi masih wajar) ya ok-ok saja. Mungkin dulu prinsip saya adalah AAS (Asal Antik Sikaattt!).

Merek-merek awal yang sering saya temui, dapatkan dan miliki adalah dari merek Titoni dan Titus. Kayaknya merek jam ini adalah merek 'sejuta umat' karena sejak dulu sampai sekarang masih saja banyak dan mudah dijumpai. Alangkah gembiranya dulu saat mendapatkan sebuah jam Titus atau Titoni yang masih dalam keadaan jalan apalagi produksi tahun 50-60an. Dengan harga yang sangat terjangkau (untuk ukuran pegawai baru) dan desainnya menarik. Entah berapa banyak jam-jam dari kedua merek ini yang keluar masuk dalam koleksi saya dulu.



Kegemaran dan semangat mencari dan mengumpulkan jam antik yang masih tinggi membuat saya sering sekali keluar masuk pasar di kota manapun saya ditugaskan saat tugas kantor. kalau teman kantor lain biasnya tanya dimana tempat makan yang enak saat bertugas di sebuah kota, saya malah tanya "mas, dimana letak pasar besar ya?". Karena memang seringkali jam-jam antik itu saya dapatkan di pasar-pasar besar di kota-kota, karena saat itu saya tidak tahu tempat lain (toko atau kolektor) yang memiliki jam-jam tersebut. Perubahan lain yang saya tidak sadari adalah selalu melihat ke pergelangan tangan orang lain untuk bisa melihat jam apa yang mereka pakai. kalau jam yang dipakai jam baru, maka mata langsung berpindah. Tapi kalau yang dipakai adalah jam antik dan kebetulan kita tidak pernah lihat, maka mata kita akan seringkali tanpa sadar melihat ke tangan tersebut. Dalam sebuah meeting dengan klien, saya melihat terus ke tangan salah seorang peserta meeting karena saya senang dan kagum dengan jam yang dia pakai. Jam nya sederhana, dial warna hitam, pasti antik, dan penampilannya sangat enak untuk dilihat. Mungkin karena merasa dilihat terus, maka pada saat break dan kebetulan kami berbincang, dia langsung bilang "Ini Rolex date 1500 mas, dikasih dari bapak saya yang beliau beli tahun 1968..". Waduh pantessss bagus!. Sebagai pegawai baru yang baru belajar mengoleksi jam antik, merek Rolex sepertinya sudah merupakan merek yang tak terjangkau (saat itu sih memang ya nggak bisa terjangkau oleh saya..), karena itu saya hanya bisa mengagumi dari jauh saja.
Merek lain yang juga sering saya jumpai adalah MIDO. Ini juga salah satu dari jam 'sejuta umat' yang sampai sekarang pun masih banyak dijumpai. Saya ingat sekali saat mendapatkan jam Mido Chronometer pertama saya, bangganya luar biasa. Bagi saya, merupakan pencapaian yang sudah luar biasa mendapatkan sebuah Mido chronometer yang masih bagus lengkap dengan rantainya yang saya beli dari sebuah tempat service jam di Pasar Beringhardjo Yogya. Jam itu kemana-mana saya pakai dan saya jelaskan kepada siapapun yang tanya (dan yang tidak tanya) mengenai jam itu. Kemudian setelah agak lama mungkin bosan, akhirya saya beralih untuk mencari MIDO multifort yang lebih antik lagi. Dan pernah memiliki sampai beberapa buah. 3 buah contohnya ada di gambar di bawah.

Jam antik unik yang pernah saya miliki dan saya bangakan adalah 2 buah jam rusia yang saya dapatkan dari seorang rekan penggemar jam antik juga. Saya banga dengan jam ini karena desain dialnya beda daripada jam lain. Yang pertama bergambar 'palu arit', bintang merah dan tulisan 'The Party is Over' dan jam kedua gambar kepala-nya Gorbachev. Jam ini sempat agak lama saya simpan dalam koper sampai akhirnya berpindah tangan untuk dirawat oleh sesama penggemar jam antik. jam rusia ini adalah sebuah contoh jam antik yang merupakan 'saksi sejarah' dalam sebuah perubahan jaman. Merupakan sebuah jam yang berisi propaganda dari pmerintah Uni Soviet.

Karena prinsip saya dalam mengoleksi waktu itu masih Asal Antik Sikat, maka jam-jam dalam koleksi saya terdiri dari banyak merek baik merak Jepang, Amerika, Rusia maupun Swiss. Jenisnya pun macam-macam, dari dress watch sampai sport. Saya ingat sekali saat jumlah jam yang saya simpan sudah mencapai angka 15, istri saya mulai buka suara. "Jam banyak banget kok nggak ada yang bagus sih? mbok ya dijual2in aja ganti yang bagusan dikit!". Tapi karena kecintaan saya pada jam antik begitu tinggi, maka ucapan itu tidak saya hiraukan dan koleksi saya semakin bertambah dan bertambah terus....herannya, istri malah tidak pernah ngomel lagi. Mungkin capek ya karena diomelin juga nggak mempan sih.. :-).


BERSAMBUNG...

Kamis, 12 Juni 2008

Why We Love Our Mechanical Watches?

Dari hampir semua rekan-rekan saya penggemar jam terutama jam antik mengamini bahwa mereka lebih menyukai untuk mengoleksi jam mekanik (manual dan self winding) sebagai bagian dari koleksi mereka. Mengapa? dalam sebuah posting di sebuah forum jam di internet terdapat sebuah posting yang sekiranya mewakili kami para penggemar jam antik untuk menjawab pertanyaan diatas.

Tradisi
Jam-jam klasik dengan movement mekanikal mencerminkan sebuah tradisi masa lampau yang juga merupakan salah satu bukti pencapaian manusia dalam industri mekanikal. Dan rasanya ada kebanggan tersendiri menggunakan sebuah 'teknologi masa lampau' di tangan kita.

Kualitas
Jam-jam quartz hampir secara keseluruhan merupakan asembling pabrikasi. Jam-jam mekanik yang bermutu tinggi selalu dipoles, diasembling dan diatur keakuratannya dengan menggunakan ketrampilan manusia. Bahkan untuk sebuah jam complicated premium seperti Franck Muller, Blancpain dll pengerjaannya hanya dilakukan oleh 1 orang agar kualitas dan keakurasiannya selalu terjaga. Kualitas dan ketahanan sebuah jam mekanik diyakini dapat jauh lebih lama daripada jam quartz. Sebagai bukti Rolex antik saya yang berusia lebih dari 50 tahun masih berdetak dengan tingkat akurasi yang masih baik.

Keindahan
Apakah anda pernah menemukan sebuah jam dengan finishing enamel dan guillooche dial, casing terbuat dari platinum atau rose gold dengan blued steel hands memiliki movement quartz di dalamnya? kalaupun ada pastilah sangat jarang sekali. Movement mekanikal identik dengan sebuah keindahan karena itu jam-jam premium akan menggunakan bahan dari material terbaik untuk melengkapi keindahan tersebut. Saat ini sebagian besar jam mekanik sengaja membuat case back jam dari sapphire crystal agar semua orang bisa melihat sebuah 'kehidupan' sebuah mesin yang menggerakkan jam tersebut. Apakah anda pernah lihat jam quartz yang caseback-nya transparan? I don't think so...

Rolex dibawah banyak mendapat pujian dari member di sebuah Forum Rolex Vintage karena keindahan dalam desain dan finishing dial. Flying number dan teardrops index dipasang diatas dial yang bermotif honey comb. Dan keindahan ini berasal dari pertengahan tahun 50-an!

Battery
Dalam sebuah jam mekanik, tenaga penggerak jam menggunakan pergerakan si pemakai jam atau dengan memutar kenop untuk manual winding. Salah satu alasan kenapa seseorang suka dengan jam mekanik adalah karena tidak adanya 'ketergantungan' pada hal lain untuk menjalankan sebuah jam, dalam hal ini battery yang harus diganti rutin. Sekarang ada teknologi yang menggabungkan teknologi quartz dan mekanik yaitu movement Kinetik dan Eco drive. namun kedua jenis teknologi ini sangat tergantung pada kapasitor sebagai nyawa jam yang juga punya batas usia.

The Smooth Second Hand
Yang membuat banyak orang 'terpesona' dengan jam-jam mekanik adalah pergerakan jarum detik yang bukan berdetik tapi 'mengalir'. Keheranan awal saya terdapat jam mekanik juga dipicu oleh keindahan pergerakan jarum detik ini karena saya selalu melihat sebuah jarum detik selalu berdetik dan bukan mengalir halus. Aliran halus jarum detik ini juga dianggap sebagai representasi waktu secara umum yaitu berjalan mengalir dan bukan berdetak.

Faktor X
Bagi saya sendiri mesin mekanik sebuah jam adalah sebuah 'keajaiban'. Bagaimana tidak? apabila melihat sebuah jam mekanik bergerak kita seperti melihat sebuah kehidupan dalam tingkat disiplin dan akurasi yang tinggi. Semua elemen mesin bertautan satu sama lain menciptakan sebuah harmoni pergerakan, sebuah orkes simphony dalam kumpulan ratusan parts kecil yang berkumpul dalam sebuah casing kecil juga. Luar biasa!

Minggu, 04 November 2007

Collecting Rolex: Different point of view

Para pencinta arloji antik masih sering berbeda pendapat tentang perlu tidaknya mengoleksi Rolex (khusus). Tentu saja setiap orang mempunyai kesukaan masing-masing dan tidak perlu saling mencela kesukaan orang lain. Namun perbedaan pendapat soal Rolex ini menarik untuk dicermati.

Mereka yang pro Rolex berpendapat bahwa Rolex memang layak dikoleksi karena (1) kualitasnya baik; (2) modelnya menarik, (3) nilai ekonominya tinggi. Butir nomor (3) tampaknya tidak dibantah oleh siapapun dan kenyataan pasar sudah membuktikan. Perdebatan justru terjadi dalam hal butir (1) dan (2).

Mereka yang anti Rolex (sebutlah demikian) berpendapat bahwa butir (1) dan (2) hanyalah omong kosong. Memang benar bahwa kualitas Rolex termasuk baik karena Rolex adalah merk papan atas (high end) yang berharga mahal sehingga wajar saja jika menggunakan kualitas bahan (material) yang baik, misalnya stainless steel nomor satu dsb. Tetapi, konon, bagaimanapun harga yang demikian mahal itu tidak sebanding dengan kualitasnya. Artinya, memang berkualitas tetapi yah tidak sampai mahal seperti itu lah. Kemudian orang membuat perbandingan Rolex dengan merk-merk lain yang harganya sangat jauh di bawah Rolex. Misalnya bandingkanlah dengan Omega. Dengan harga jauh di bawah Rolex, kualitas Omega tidak kalah. Bahkan katanya pada tahun 1950an Omega mengalahkan Rolex dalam mencapai sertifikasi Chronometer (lihat artikel lain dalam blog ini) dan dalam tingkat penjualan. Memang material yang digunakan masih di bawah Rolex tetapi dengan harga yang jauh di bawah Rolex maka lebih "wajar" Omega daripada Rolex.
Demikian pula jika Rolex dibandingkan dengan Seiko. Harga Seiko sangat jauh di bawah Rolex, tetapi perbedaan kualitas material yang digunakan tidak sejauh perbedaan harganya. Perbandingan ini ada benarnya juga. Mesin putar Seiko yang hi beat (36,000 bph) material dan konstruksinya hebat, demikian pula dengan Seiko otomatis generasi pertengahan 1960an, mesinnya bagus-bagus. Bahkan radium yang digunakan Seiko dalam banyak hal lebih tahan lama dibandingkan Rolex.

Dari beberapa artikel yang saya baca, kelompok anti Rolex berpendapat bahwa sebenarnya Rolex mengeluarkan sedikit investasi untuk pengembangan produk-produknya dibandingkan merk-merk lain. Meskipun mengeluarkan beberapa model dari yang dress hingga yang sport, mesin Rolex yang dipakai di berbagai model sebenarnya itu-itu saja. Inovasi Rolex rendah sekali karena Rolex cenderung mempertahankan gaya dan pakemnya, baik dalam hal teknologi maupun model. Bahkan bicara soal butir ke (2) yaitu model-model Rolex, kelompok anti Rolex berpendapat Rolex tidak mengembangkan "arsitektur" arloji yang inovatif. Dibandingkan dengan Mido, Omega dan Seiko atau bahkan Titus, Rolex tidak mengeluarkan model sebanyak merk-merk tersebut. Kelompok anti Rolex berpendapat model-model Rolex membosankan.

Automatic movement Rolex Cal.1570, terbanyak digunakan di jam Rolex

Benarkah Rolex exclusive? Kelompok anti Rolex berpendapat Rolex memproduksi arloji hingga satu juta biji setiap tahun dan paling jarang mengeluarkan edisi terbatas (limited edition), jadi dimana letak exclusivenya?

Akhirnya kelompok anti Rolex tidak mengerti mengapa harga Rolex demikian mahal? Mereka punya kesimpulan bahwa Rolex berhasil menanamkan citra merknya di kepala konsumen. Rolex tidak perlu berusaha keras mempromosikan citranya karena ia sudah mempunyai penggemar yang loyal dan tradisional. Selain itu, harga Rolex menjadi tinggi karena Rolex berubah dari arloji penunjuk waktu ke benda spekulatif. Kadang orang menyimpan Rolex bukan untuk dipakai tetapi untuk disimpan sebagai tabungan, syukur-syukur harganya bisa melejit. Seperti bermain saham.

Perbedaan Rolex 15200 produksi 2000an dan 1501 produksi awal 1970

Orang-orang jadi bingung siapa yang menentukan harga Rolex antik? Apakah ada mekanisme supply and demand atau ada semacam histeria yang disebarluaskan oleh internet (dan oleh kolektor tentu saja), atau oleh kartel pedagang arloji?

Anda tahu jawabannya?

Tulisan ini adalah kiriman Bang Marga di milist arloji antik. Bang Marga adalah penggemar jam antik yang tinggal di Bogor

Kamis, 01 November 2007

Collecting Vintage Watches: The Challenges

Rekan-rekan penggemar arloji antik, saya ingin berbagi pengalaman dan pendapat perihal mengoleksi arloji antik.

1. Menurut saya dunia arloji antik tidak berkembang. Indikasinya adalah sebagai berikut:
Ketersediaan arloji antik semakin lama semakin berkurang. Dibandingkan dengan keadaan 5 tahun yang lalu, terasa jauh sekali perbedaannya. Mengapa demikian?
(a) karena arloji antik tidak lagi diproduksi, jadi wajar saja semakin lama akan semakin habis.
(b) karena arloji antik banyak sekali dibeli oleh pedagang luar dan orang-orang kita yang kadang secara borongan menjual langsung keluar, jadi ketersediaan di dalam negeri secara perlahan juga tergerus.

Pasar arloji antik dari sisi konsumen hanya kuat di Eropa dan Jepang. Karena itu, pedagang dari kawasan lain (Malaysia, Vietnam dan Thailand) sudah lama mencari arloji antik di Indonesia untuk dipasarkan kembali ke kawasan Eropa dan Jepang. Saya kira di ketiga negara asal pedagang itu (termasuk juga Singapura) pasar domestik mereka tidak begitu kuat. Dan mereka hanya berlaku sebagai negara pemasok saja dan konsumen mereka sebagian besar dari luar negara mereka atau juga konsumen domestik yang benar-benar berduit dan gila arloji antik. Tapi jangan salah, walau hanya sebagai pemasok, margin keuntungan yang mereka dapatkan cukup tinggi juga.

OK, kalau ketersediaan arloji antik makin berkurang mengapa kita masih mememui arloji antik di pasaran kita? Jawabannya kemungkinan seperti beriku:,
(a) masih ada barang-barang dari daerah lain (jawa timur, jawa tengah dll) meskipun kondisinya sering tidak utuh (kondisi mati, dial jelek, komponen hilang dll)

(b) masih banyak barang yang berada di tangan kolektor, kadang-kadang mereka juga melepas ke pasar dengan berbagai alasan (bosan, punya double, butuh duit dll),

(c) banyak barang re-kondisi, aspal, frankenwatch, kanibal, atau apapun namanya masuk pasar. Jadi seolah olah "masih banyak barang di pasaran" tetapi menurut saya orisinalitasnya meragukan.

B. Dunia arloji antik tidak berkembang karena komunitas penggemar juga tidak berkembang. Orang-orangnya datang dan pergi. Tidak adanya wadah dan kegiatan akan dapat membuat ikatan antar penggemar longgar. Bahkan kolektor tingkat tinggi justru tidak ingin dikenal (ada beberapa pejabat dan artis). Selain itu, persaingan antar penggemar juga ketat, bersaing memperebutkan barang dan mendapat akses ke penjual (sumber). Mengapa banyak pendatang baru sulit bertahan? Karena pendatang baru sering salah beli (kemahalan, barang palsu, barang tidak kolektibel dsb) sehingga mereka kapok dan tidak melanjutkan hobi ini. Seharusnya ada pembinaan terhadap pendatang baru sehingga mereka tidak kejeblok.

C. Dunia arloji antik tidak berkembang karena keadaan ekonomi secara umum lesu. Harga arloji antik sangat tinggi untuk ukuran pendapatan rata rata orang Indonesia (untuk merek-merek tertentu), sehingga daya beli cenderung sensitif.

D. Penggemar arloji antik masih berorientasi kepada merk (khususnya Rolex), sehingga merk di luar Rolex sulit mendapat tempat. Sebenarnya hal ini terkait dengan butir C di atas. Karena alasan ekonomi, penggemar lebih cenderung mengoleksi yang nilai ekonominya lebih menguntungkan. Kalau punya Rolex, begitu butuh uang gampang dicairkan. Jadi sifat dunia arloji kita masih 90% berorientasi kepada profit seeking. Kaum spekulan dan pedagang lebih dominan daripada yang benar-benar penikmat.

Mengembangkan komunitas penggemar arloji antik tidak mudah, karena faktor domisili dan faktor kesibukan. Kita sudah sangat tertolong oleh adanya internet ini. Selain itu, karakteristik penggemar juga macam-macam, ada yang senang segala macam merk, ada yang merk tertentu, ada yang senang barang yang murah saja dan juga ada yang mengkoleksi barang-barang yang mahal. Bagaimana menjembatani itu semua? Saya belum tahu jawabnya.

Mengoleksi arloji antik saat ini lebih banyak tantangannya. Selain faktor-faktor yang saya uraikan di atas, yang paling rumit saat ini adalah membedakan tingkat orisinalitas suatu barang. Karena ini adalah kegiatan yang terkait dengan uang dalam jumlah cukup besar maka banyak pihak berusaha mengisi kekosongan pasar dengan membuat arloji aspal. Teknologi dan keterampilan saat ini jauh lebih maju dibandingkan beberapa tahun lalu. Rolex palsu sudah halus sekali dan canggih buatannya. Semakin kolektibel semakin sensitif terhadap kondisi, jadi harus benar-benar jeli. Barang kolektibel pun dipengaruhi oleh trend dan spekulasi. Bisa jadi dalam beberapa tahun berubah, harga anjlok, harga lompat dsb. Kalau mau jadi penggemar murni silakan, tetapi kalau mau belajar jadi spekulan dikit-dikit berarti harus belajar "ilmu" lain lagi.

Posting ini ditulis oleh Bang Marga, seorang penikmat dan pemerhati arloji antik yang tinggal di Bogor.