Tampilkan postingan dengan label A Serba serbi jam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Serba serbi jam. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

Misteri ROLEX Daytona '13' Solid Gold Ref.16528

Suatu hari, saya membeli sebuah katalog lelang Sothesby untuk pelelangan bulan Mei 2011 lalu. Sebagian besar jam tangan yang dimuat dalam katalog tersebut adalah Rolex sport vintage dari berbagai tipe (mayoritas Submariner). Kemudian mata saya tertuju pada sebuah Rolex daytona solid gold Ref.16528 dengan dial hitam. Katalog itu menyebutnya sebagai "Daytona 13". Kenapa disebut sebagai Daytona 13? coba perhatikan foto jam Daytona di bawah, terutama angka di posisi angka 3. Angka yang seharusnya terpasang adalah 15 dan bukannya 13 seperti itu karena posisi angka 3 merupakan penunjuk menit ke-15.


Dalam penjelasan posting tersebut dijelaskan bahwa jam ini dibeli pada tahun 1989 dan membeli sebuah Rolex Cosmograph daytona solid gold Ref.16528 yang merupakan seri terakhir Daytona pada saat itu. Sang kolektor langsung memakainya setiap hari. Sampai suatu kali, sang kolektor ini melihat ada keanehan pada dialnya, yaitu adanya angka 13 dan bukannya 15. Kolektor tersebut melihat ini sebagai 'kesalahan' produksi dan segera langsung menulis surat kepada Rolex di geneve untuk meminta penjelasan dan penggantian Daytona-nya. Beberapa hari kemudian, dia mendapatkan surat balasan yang ditulis langsung oleh Komisaris Rolex pada saat itu, Mr.Heinegger, yang secara resmi mengatakan bahwa memang telah terjadi kesalahan produksi pada jam tersebut. Mr.Heinegger menawarkan kepada sang kolektor untuk mengganti jam yang salah tersebut dengan rolex daytona yang baru dengan ref sama. Setelah dipertimbangkan, sang kolektor akhirnya memutuskan untuk tetap menyimpan jam tersebut karena 'kesalahan' tersebut dianggap sebagai keunikan"

Akhirnya setalah 22 tahun kemudian, Rolex yang salah tersebut di lelang di Sothesby dengan estimated price US$ 88,500 - 133,000. jam ini dijual lengkap dengan box dan paper termasuk surat konfirmasi dari Rolex mengenai kesalahan tersebut.

Sulit dimengerti oleh logika ketika sebuah jam yang salah dalam produksi akhirnya malah menjadi sebuah jam yang kolektibel. Tidak pernah ada informasi berapa banyak Rolex Daytona 16528 yang salah seperti ini karena memang kemungkinan seperti ini sangat jarang terjadi. Yang masih belum bisa saya mengerti adalah kenapa bisa brand sekaliber Rolex bisa melakukan blunder seperti ini? apa orang yang melakukan asembli ini sedang mengantuk atau melamun, atau malah disengaja? nggak ada yang tahu sebabnya..

Kalau ini terjadi pada jam merk Seiko atau casio atau Mido, apakah perlakuannya akan sama dengan Rolex ini?...hmm saya kira kok nggak ya.

Sabtu, 24 Desember 2011

Brand Ambassador ROLEX terbaru: Tiger Woods

Pada tanggal 5 Oktober 2011 lalu, ROLEX mengumumkan secara resmi penunjukan TIGER WOODS sebagai Brand Ambassador. Kerjasama akan efektif mulai sejak tanggal 1 januari 2012. Penunjukan Tiger Woods (selanjutnya disebut sebagai TW) melengkapi jajaran pe-golf professional terkemuka dunia yang juga menjadi Brand Ambassador dari Rolex diantaranya Jack Niklaus, Gary Player dan Arnold Palmer.

Penunjukan ini ternyata mengagetkan banyak kalangan pecinta jam dan mereka mempertanyakan hal yang sama: Mengapa ROLEX memilih TW?. Seperti halnya banyak media mengatakan, sekarang bukanlah era-nya TW, terutama setelah pengakuan-nya yang kontroversial mengenai skandal yang dia lakukan dan perceraian 'mahal' dengan mantan istrinya. Saya sendiri bukanlah pemain golf dan juga pengagum TW. Saya hanya mencoba untuk melihatnya dari kacamata seorang penggemar jam, termasuk Rolex.

Mungkin Anda ingat saat pe-golf muda berbakat Eldrick Tont Woods (nama asli dari TW) bekerja sama untuk pertama kalinya dengan Rolex. Namun, Rolex memutuskan untuk mengaitkan TW dengan sub brand Rolex yaitu Tudor. Entah apa yang dipikirkan Rolex saat itu dengan menunjuk TW sebagai brand ambassador Tudor, dan bukannya dengan Rolex sendiri. Padahal semua kalangan saat itu tahu bahwa TW adalah fenomena baru dalam dunia Golf. Mungkin alasannya adalah karena TW saat itu masih sangat muda dan Rolex ingin memajukan Tudor untuk menyisir target pasar dari kalangan orang muda juga. Sedangkan brand ambassador Rolex lebih banyak dihuni oleh para 'senior' dari TW di dunia golf. Ternyata strategi mengawinkan Tudor dan TW kurang begitu berhasil, sampai akhirnya Rolex mencabut peredaran Tudor TW dari pasar Amerika.

Kejadian ini ternyata tidak membuat ROLEX merubah strategy dengan mencoba mengawinkan TW dan Rolex. Sampai akhirnya perjanjian kerjasama selesai tahun 2002 dan TW dipinang oleh Tag Heuer untuk menjadi brand ambassador mereka selama beberapa tahun (sampai skandal muncul). Dan ternyata keberadaan TW di Tag Heuer berhasil mengangkat brand Tag Heuer. Akhirnya, Tag Heuer tidak lagi memperpanjang kontrak dengan TW (begitu juga beberapa brand besar: Gillette, Gatorade dll) karena skandal yang dilakukan oleh TW sangat mencoreng dunia olah raga, terutama nama besar TW. Sebuah biro riset marketing bahkan menyebut TW sebagai salah satu nama paling beresiko sebagai model iklan.

Terlepas dari mulai pudarnya nama TW dan merosotnya prestasi professional TW, gebrakan Rolex dengan memilih TW sebagai brand ambassador ini tentu membuat banyak orang penasaran. Apakah Rolex memiliki grand strategy untuk menaikkan pamor TW sekaligus juga mereposisi brand Rolex? atau mungkin strategy ini merupakan strategy yang salah? apapun hasilnya nanti, orang-orang hanya bisa menduga-duga saja. Tapi saya yakin, Rolex, sebuah brand yang sangat dihormati, tidak akan gegabah dalam memilih tokoh untuk mewakili brand-nya.

Senin, 27 Juni 2011

Misteri Logo Tsunami pada Seiko Diver

Para pecinta Seiko tentu familiar dengan logo 'Tsunami' yang digrafir pada sisi luar caseback Seiko Diver professional. Dalam beberapa forum sering dikatakan bahwa ide atau konsep dari logo 'Tsunami' itu berasal dari sebuah lukisan kayu (wood cut) "In the hollow of a great wave off the coast at Kanagawa" yang bertema sama yang dibuat oleh Hokusai. Pendapat ini muncul karena melihat kesamaan bentuk dominan pada lukisan tersebut dengan logo Tsunami pada jam Seiko diver. Apakah memang benar demikian?

Kedua hal itu ternyata tidak berhubungan. Walaupun pola ombak yang tampak sama, Seiko tidak mengambil ide gambar itu untuk kemudian diaplikasikan sebagai logo. Untuk Seiko diver modern (tidak termasuk Seiko vintage), logo Tsunami digunakan sebagai penanda diver profesional 200m atau lebih. Logo ini juga dipakai oleh Alba untuk jam-jam diver profesional mereka.

Pada Seiko diver vintage, logo Tsunami sudah digunakan pertama kali pada seri Silverwave sportdiver generasi pertama pada pertengahan tahun 60-an. Silverwave ini bukanlah jam diver profesional dan hanya memiliki depth rating 30-50m. Kemudian logo Tsunami digunakan pada seri diver klasik 6306, 6306, generasi awal 7002.

Sekarang kita coba bandingkan antara lukisan Hokusai dan logo Tsunami Seiko. Sebenarnya yang dilukis oleh Hokusai bukanlah sebuah Tsunami melainkan Okunami (lautan luas dengan ombak besar), sedangkan Tsunami adalah sebuah 'ombak' yang dihasilkan oleh perubahan seismik dari permukaan bumi. Dan apabila diperhatikan dengan seksama, fokus lukisan Hokusai bukanlah ombak, melainkan gunung Fuji dan beberapa kapal nelayan yang sedang mengarungi ombak.


Mis-konsepsi antara lukisan Hokusai (Okinami) dan logo Seiko diver (Tsunami) sudah lama terjadi dan banyak dibicarakan dalam forum di internet. Sebenarnya lukisan ombak besar (Okunami) bukanlah dominasi Hokusai karena tema lukisan ini begitu populer dan banyak dilukis oleh seniman Jepang. Biasanya, lukisan ombak besar selalu disertai gambar Gunung Fuji yang nampak di kejauhan dan terkadang juga gambar dari kapal nelayan. Salah satu contoh lukisan bertema sama adalah karya Ando Hiroshige di bawah ini. masih banyak lagi lukisan setipe yang bisa kita dapat bila search di google.

Laut memiliki hubungan yang dekat dengan bangsa jepang dan ini bisa dilihat dari banyaknya karya seni jepang yang bertemakan lautan luas, gunung fuji dan juga nelayan. Mungkin saja Seiko mengambil logo Tsunami sebagai salah satu bukti kedekatan mereka dengan Laut dan sekaligus sebagai penanda bahwa jam Seiko dengan logo Tsunami adalah jam yang tangguh dan bisa diandalkan untuk mengarungi dan menyelami lautan dalam.

Minggu, 19 Juni 2011

Gala Dinner JAEGER LeCOULTRE Reverso 80th Anniversary

JAEGER LeCOULTRE kembali melakukan acara gala dinner dengan para penggemar setia brand ini di Jakarta. Tahun ini acara gala dinner dilakukan pada 16 Juni 2011 di Penthouse Hotel Grand Hyatt Jakarta. Gala dinner tahun lalu diadakan di salah satu restoran Italia di Hotel Shangrilla, jakarta. Acara kali ini merupakan juga acara 'ulang tahun' ke 80 salah satu tipe JLC yang paling dikenal yaitu Reverso yang pertama kali pada tahun 1931. Untuk ulang tahun ke-80 ini JLC mengeluarkan edisi khusus yang merupakan re-make dari versi klasik dan pertama Reverso.

Acara dihadiri oleh sekitar 40 orang penggemar JLC dan kolektor jam di Jakarta dan acara makan malam dimulai pada jam 20.00 dengan pembukaan oleh MC. Tuan rumah dari acara ini adalah Time International selaku perwakilan resmi JLC di Indonesia. Acara serupa juga dilakukan di Surabaya 2 hari kemudian. Makanan pembuka-nya sungguh menggugah selera: House smoked salmon, Capers, Red onion and Honey-mustard dressing....!

menyesuaikan dengan tema utama gala dinner malam itu, saya membawa serta JLC Reverso 8 days Grande date yang sekarang sudah tidak lagi diproduksi oleh JLC...

Beberapa produk terbaru dari JLC dipajang pada display yang terletak di ruangan berbeda dengan ruangan gala dinner. Beberapa tipe sungguh menarik untuk dinikmati dan beberapa tipe masih berupa sample dan belum resmi dijual di Indonesia.

Dan tentu saja, bintang pada malam itu adalah Grande Reverso Ultra Thin tribute to 1931..! reverso ini dibuat sedekat mungkin penampilannya dengan versi aslinya. Disebut Grande karena memang ukurannya dibuat lebih besar. Untuk versi steel seperti gambar di bawah tidak dibuat secara terbatas. Untuk versi pink gold dengan dial hitam dibuat hanya 500 buah saja. Tidak seperti tipe reverso lainnya, Grande reverso re-make ini hanya menuliskan kata "Reverso" saja pada dialnya karena memang nama itu yang digunakan pertama kali 80 tahun lalu. Jam ini menggunakan manual winding movement Cal.822 yang dibuat, dihias dan dirakit totally by hand. Movement cal.822 ini memiliki ketebalan hanya 2,9mm dan dibuat dari 134 buah parts. Ukuran jam secara total 46mm (panjang), 27,5mm (lebar) dan 7,2mm untuk tebal.

Berbarengan dengan edisi re-make reverso ini, JLC juga mengeluarkan versi reverso ultra thin modern. Semua aspek sama dengan reverso tribute to 1931 dan hanya dibedakan di desain dial.

Reverso dibawah adalah tipe Grande Reverso 976 yang terbuat dari rose gold. Perpaduan antara rose gold case dan dial berwarna hitam sungguh cantik. Reverso ini menggunakan manual winding movement cal.976 yang merupakan versi terakhir dari keluarga cal.970. casing Reverso 976 lebih besar dari Reverso ultra thin yaitu panjang 48mm. Tipe ini hanya keluar dalam 2 jenis casing yaitu steel dan rose gold.

Jam diver di bawah adalah salah satu produk terkini dari JLC, "memovox tribute to Deep Sea" yang baru diperkenalkan pada awal tahun ini. Pada tahun 1959 Jaeger pertama kali mengeluarkan jam diver profesional yang memiliki fungsi alarm dan diberi nama memovox Deep Sea. produk tersebut secara cepat menjadi populer di kalangan penggemar diving karena untuk pertama kalinya sebuah jam diver memiliki cara untuk memberitahu waktu bagi diver melalui getaran dan suara alarm. Memovox deep sea original berdimensi 39mm sedangkan memovox Deep sea re-edition ini sedikit lebih besar 40,5mm. Kesan vintage terasa karena indeks pada dial dan jarum menggunakan warna yang agak kekuningan.



Master control mengeluarkan versi Tourbillon juga, yaitu Master Tourbillon. Jam ini menggunakan 'sangkar' tourbillon terbuat dari titanium dengan berat hanya 0,28 gram. Dengan berat kurang dari 1 gram, tourbillon ini bisa berfungsi secara optimal terhdap akurasi movement. Master Tourbillon memiliki 2nd time zone yang terletak di bawah posisi angka 12 dan penunjuk tanggal menggunakan pointer. Warna dial abu-abu yang dipadukan dengan material case baja. Kombinasi warna yang unik.


AMVOX Chronograph


JLC yang sebelah kiri adalah Master Control Chronograph, salah satu favorit saya dalam gala dinner saat itu. Diameter 42mm dengan desain yang klasik dan berkarakter. Sebelah kanannya adalah Master compressor memovox extreme.


Acara gala dinner selesai jam 22.00 malam. Puas sudah melihat beberapa jam JLC favorit saya secara langsung dan yang lebih penting lagi melihat dan mencoba langsung Grande Reverso Tribute to 1931. Rencananya kegiatan seperti ini akan diadakan setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Tidak sabar untuk menunggu gala dinner JLC tahun depan...!

Kamis, 20 Januari 2011

"SWISS MADE": Apa maksudnya?

Setiap kali ditanyakan mengenai 'jam tangan', yang langsung muncul dalam pikiran adalah "SWISS MADE" atau buatan Swiss. Karena memang 8 dari 10 orang mungkin akan menjawab bahwa jam tangan ya harusnya buatan Swiss. Jadi, tidak heran kalau kita melihat banyak sekali tulisan "SWISS MADE" dicetak di banyak merek jam dari mulai merek 'beneran' sampai merek yang baru muncul 'kemarin sore'. "SWISS MADE" menjadi sebuah alat ampuh untuk menunjukkan kualitas, akurasi, kehandalan dan desain yang baik, walaupun dalam kenyataan sebenarnya tidak semua jam dengan label "SWISS MADE" memang benar-benar memiliki semua kriteria diatas. Untuk beberapa jenis, mungkin jam produksi Jepang masih bisa lebih bagus kualitasnya.

Diskusi mengenai kriteria atau definisi "SWISS MADE" merupakan salah satu topik hangat yang sedang sering dibicarakan dikalangan produsen jam. Karena ada wacana, standar sebuah merek agar dapat menyandang label "SWISS MADE" akan diperketat. Sebelum kita melangkah lebih lanjut, sebaiknya kita mengetahui dulu apa sih kriteria bagi sebuah merek layak menyandang label "SWISS MADE"?

Sebuah jam berhak untuk disebut 'SWISS MADE' apabila:
1. movement yang digunakan adalah buatan Swiss
2. Movement dan casing di asembling di Swiss
3. Quality control atau final inspection sebelum jam itu di produksi masal, dilakukan juga di Swiss


Sebuah movement akan dikatakan "SWISS MADE" apabila:
1. Asembling komponen dilakukan di Swiss
2. Inspeksi kualitas dan produksi-nya dilakukan di Swiss
3. Komponen dalam sebuah movement minimal mengandung 50% komponen yang dibuat di Swiss.

Apabila sebuah jam memiliki movement buatan Swiss tapi pengerjaan lainnya dilakukan diluar Swiss, maka merek tersebut tidak boleh menuliskan SWISS MADE, tapi hanya boleh menuliskan SWISS MOVEMENT atau MOUVEMENT SUISSE. Dan kata-kata itu tidak boleh disingkat seperti SWISS MOVT, SWISS M dll. Untuk komponen movement yang berasal dari Swiss tapi asembling dilakukan diluar Swiss, maka tidak boleh ada kata SWISS MOVEMENT yang dicetak pada dial, dan hanya bisa dituliskan SWISS PARTS pada movement-nya.

Casing juga berhak mendapatkan label "SWISS MADE" apabila:
1. manufaktur casing (stamping, polishing dll) dilakukan di Swiss
2. Asembling dan kualitas kontrol casing dilakukan di Swiss
3. Lebih dari 50% dari total cost berasal dari Swiss, diluar nilai material yang digunakan.

Secara theory, berdasarkan standar yang sudah ditetapkan oleh Federation of the Swiss watch Industry membolehkan sebuah merek jam menyandang nama "SWISS MADE" meskipun 50% prosesnya dilakukan di luar Swiss. Dalam wacana yang baru, federasi tersebut merencanakan standar baru untuk sebutan "SWISS MADE" ini, yaitu 80%. Hal ini didasarkan kepada semakin mudahnya seseorang untuk membuat jam dan menyandang nama SWISS MADE hanya karena mereka tidak perlu melakukan semuanya di Swiss. Hal ini terkait juga dengan 'nama keramat' SWISS MADE yang identik dengan kualitas yang tinggi, sedangkan banyak merek baru yang secara kualitas sebenarnya tidak bisa disejajarkan dengan 'the real swiss made'.

Mengapa peningkatan standar 80% cost pembuatan sebuah jam harus dari Swiss menjadi perdebatan? apa sih dampaknya? Saat ini, produsen jam yang sanggup memenuhi standard 80% adalah dari merek-merek high-end dimana secara tradisi mereka membuat hampir sebagian komponennya di Swiss. Hal ini tentu terkait dengan warisan dan budaya kualitas yang selalu dijaga setiap tahun. Apa konsekuensi dari penggunaan material yang sebagian besar produksi Swiss? tentu saja cost yang tinggi. Swiss dikenal memiliki industri yang tidak efisien dan biaya tinggi karena itu tentu berdampak langsung pada harga yang akan dipatok kepada konsumen. Kondisi ini paling telak akan menimpa produsen jam yang mid-end. merek-merek 'tanggung' ini tentu akan bekerja ekstra keras dan merogoh kantong kian dalam untuk bisa tetap menyandang nama SWISS MADE pada setiap jam produksi mereka. Bagaimana dengan merek kategori Low-end? ternyata kategori ini malah lebih mudah karena mereka bisa beli dial atau komponen yang murah dari asia (catatan:semurah mungkin) dan dibawa ke Swiss untuk di asembling. Pembelian komponen murah dari Asia tidak bisa dilakukan oleh merek yang mid-end karena hal ini terkait dengan standar kualitas yang ditetapkan.

Masalah lain yang akan muncul dengan akan diterapkannya 80% standar ini adalah masalah supply dan demand. Dengan demand yang menaik secara signifikan, dikhawatirkan bahwa industri Swiss tidak sanggup memenuhi setiap permintaan casing, dial, movement dan komponen lainnya. jalan keluar satu-satunya adalah dengan membeli komponen itu ke asia dengan kualitas yang tidak kalah bagusnya. Tapi tentu saja hal ini akan semakin mempersulit sebuah produsen jam mencapai standar 80%. Karena itu, standar baru ini masih terus dikaji oleh Federasi apakah memang bisa dilaksanakan secepatnya atau masih terus sebatas wacana saja.

Kamis, 18 November 2010

Part Aftermarket (Non Genuine) Pada Jam Antik: Sebuah Pendapat

Dunia jam antik adalah dunia yang sangat menarik dan menantang (tentu bagi yang suka). Menarik adalah karena jam antik merupakan sebuah bukti sejarah romantisme masa lalu dimana sebuah periode sejarah dilalui. Menarik, juga karena seringkali sebuah jam antik itu menggambarkan atau merupakan bukti otentik sebuah kejadian di masa lalu. Dan yang paling sering saya dengar adalah, Menarik karena si pemilik memiliki ikatan emosional dengan jam antik tersebut. Misal, jam itu seperti jam yang pernah dimiliki oleh kakeknya dulu. Atau jam itu adalah pemberian orang tuanya ketika seseorang lulus SMP atau apapun yang terkait erat dengan sisi emosional seseorang.
Menantang, karena tidak semua jam antik itu memiliki value yang bagus untuk disimpan (ini kalau kita melihatnya dari sisi investasi juga) dan tidak semua jam antik yang beredar atau dijual itu 'benar' dan genuine. Kenapa? secara logika saja, jam yang umurnya sudah 50 tahun sangat pasti ada beberapa bagian dari jam itu yang sudah bukan aslinya. Karena faktor umur dan penyimpanan serta pemakaian seringkali memperpendek umur parts dari sebuah jam. Tulisan kali ini ingin menceritakan sebuah kenyataan yang sering saya jumpai dalam pengalaman mengumpulkan jam antik, yaitu parts aftermarket. Aftermarket, menurut definisi artikel ini adalah parts pengganti yang bukan dibuat oleh pabrikan asli jam tersebut. Ada yang bilang parts palsu, ya ada benarnya juga karena memang bukan dibuat oleh pabrik jam tersebut. Untuk lebih halusnya saya sebut saja "aftermarket".
Dalam gambar diatas anda bisa lihat sebuah Bullhead koleksi saya yang menurut saya insert bezel-nya adalah part aftermarket. Kenapa? berdasarkan pengamatan saya terhadap sekian banyak Bullhead yang pernah saya miliki dan lihat, juga berdasarkan amatan pada brosur asli Seiko pada tahun 70-an, Seiko bullhead tidak pernah memiliki insert bezel dengan tulisan 'Tachymeter' berwarna kuning, melainkan putih. Semula saya juga ragu dengan dial serta jarum, tapi menurut amatan seorang rekan yang memang gemar Seiko dan memiliki pengetahuan luas, dial dan jarum jam masih original. Kondisi Seiko bullhead yang saya miliki ini memang bagus sekali dan bersih, bahkan rantai-nya masih original bawaan dari tipe ini.
Yang menjadi menarik adalah pertanyaan berikut: apa saja bagian yang masih bisa 'diterima' kalau menggunakan parts aftermarket? menurut saya, jawaban ini tergantung dari prinsip kita dalam mengoleksi dan standar akan sebuah jam antik dan juga tergantung pada merek jam. Misal untuk Rolex. Bagian jam yang sebaiknya masih original adalah: Dial, Casing, Rantai dan tentu saja movement. Seringkali jarum jam dan mika (kalau rolex antik) merupakan bagian yang tidak harus genuine karena parts yang aftermarket juga sangat mirip dengan yang original sehingga seringkali sulit untuk dibedakan, terutama jarum jam. Foto 2 Rolex diatas adalah contoh sebuah jam antik yang berusia hampir 50 tahun dengan kondisi yang mendekati 100% genuine. Yang paling sulit adalah menemukan sebuah Rolex antik dengan jarum yang sesuai dengan pakem pada periode jam itu di produksi. jarum jam yang digunakan pada Rolex tahun 50-awal 60-an adalah model pedang (dauphine) dan model daun (leaf hands) seperti terdapat pada contoh diatas. Jarum jam dengan model dauphine pernah saya lihat aftermarket-nya, tapi untuk model leaf hands saya belum pernah lihat, tapi saya yakin ada. Nah, yang bisa menunjukkan jarum itu benar leaf hands atau dauphine yang otentik bawaan jam tersebut adalah dengan melihat kondisinya. kalau bersih sekali seperti baru, saya kin jarumnya sudah diganti dengan yang aftermarket. Karena selama puluhan tahun pasti sudah terjadi oksidasi dan perubahan pada kondisi jarum yang asli. Saya sering melihat sebuah jam Rolex antik tahun 50-60an dengan desain indeks seperti diatas menggunakan jarum jam model lurus biasa. jarum jam yang dipakai bukanlah palsu karena jam itu di service di Rolex Service Centre. Karena over haul di RSC banyak bagian yang diganti dari jam itu termasuk jarum jamnya. Bagi saya, keindahan jam itu jadi 'terganggu' karena tidak sesuai dengan pakem yang sebenarnya.

Untuk mika saya yakin sudah pernah diganti, mungkin dengan yang aftermarket. Karena mika kalau masih asli pasti kondisinya sudah sangat buram bahkan mungkin sudah 'retak seribu' karena faktor usia. Pernah, saya dan seorang rekan berusaha mengidentifikasi dan membuat 'standar' penampilan sebuah mika rolex itu asli atau aftermarket. Ternyata sulit sekali, terutama mika dengan besaran magnifier yang serupa dengan yang asli. Pernah saya bandingkan sebuah mika yang diperoleh dari Rolex service centre dan mika yang saya yakin aftermarket (karena saya belinya Rp.200 ribuan). Ternyata besaran magnifier-nya sama! kemudian saya coba lihat dari sisi desainnya. Ada yang bilang lengkungan mika rolex seperti ini dan aftermarket seperti itu. Tapi setelah di konfrontir dengan beberapa sample, standar itu ternyata juga tidak berlaku karena ada beberapa model mika rolex. Karena dasar itulah maka saya berpendapat bahwa mika rolex adalah bagian yang tidak mesti genuine untuk sebuah Rolex antik.

Gambar dibawah adalah beberapa jenis Rolex antik yaitu model 1601 dan 16013. Kalau dilihat secara fisik kita sulit untuk membedakan mana Rolex yang masih menggunakan jarum jam yang asli dan mana yang aftermarket, karena semuanya tampak sama! begitu juga mika-nya.

Kembali, diterima tidaknya parts aftermarket sangat tergantung bagiamana kita menentapkan standar bagi jam antik yang hendak kita koleksi. Seseorang yang beraliran purits tentu mengusahakan agar semua bagian dari jam itu otentik, genuine dan sesuai dengan pakem yang berlaku pada periode saat itu. Tapi bagi pencinta jam antik yang mengutamakan kebersihan tentu membolehkan refurbished dengan parts aftermarket, selama parts yang diganti itu bukanlah bagian2 yang prinsip seperti telah disebutkan diatas.
Bagaimana dengan merek jam lain seperti Omega, Titus, Mido dll? prinsipnya sama, anda termasuk golongan yang mana? purist-kah atau bukan? tentu masih bukan perkara mudah juga untuk bisa mendapatkan sebuah Titus 77 jewels dengan kondisi yang bagus dan otentik. Kembali kepada anda, toleransi apa yang anda buat terhadap part yang boleh diganti dengan aftermarket.

3 buah Omega Speedmaster diatas adalah Omega antik yang kebetulan semuanya masih genuine, mulai dari crown, rantai sampai mika masih original bawaan jam tersebut. Untuk kasus Omega mungkin akan lebih mudah untuk identifikasi mika asli atau bukan karena Omega selalu menempelkan logo mereka di tengah-tengah mika dan bisa dilihat dengan menggunakan kaca pembesar atau didekatkan cahaya.

Parts aftermarket bukanlah barang tabu untuk sebuah jam antik. banyak orang yang memang fokus untuk membuat parts ini untuk mengisi peluang bagi orang-orang yang ingin merestorasi jam antiknya untuk bisa kembali menjadi indah dilihat dan bagus saat dipakai. Karena memang pihak pabrikan mungkin sudah tidak membuat parts seperti itu lagi. Yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kanibal terhadap jam sejenis atau membeli aftermarket parts.


Minggu, 07 November 2010

Usia Jam Boleh Tua, Tapi (Sebaiknya) Masih Bagus

Seorang yang mulai menggemari jam antik biasanya melalui beberapa fase, dan biasanya fase yang pertama adalah "asal antik-beli!", terlepas dari kualitas jam, kemulusan dan ke-otentikannya. Wajar saja karena semangat masih tinggi dan kemauan belajar masih besar sehingga proses membeli jam antik yang tidak otentik, rusak, atau bahkan palsu dianggap sebagai biaya pembelajaran. Fase berikutnya, biasanya mulai selektif baik dari segi kualitas jam antik yang hendak dibeli atau juga merek atau tema yang hendak jadi fokus utama. Ada yang mulai menyadari bahwa ketertarikannya terhadap jam chronograph demikian besar sehingga dia hanya mencari, membeli dan mengoleksi jam chronograph antik. Atau mulai fokus dari segi budget, misalnya hanya membeli jam antik yang tidak lebih dari sekian juta harganya. Macam-macamlah fokus yang hendak dipilih.

Postingan kali ini bertutur mengenai kualitas jam antik yang hendak kita koleksi. Saya buat inti posting ini adalah "boleh tua, asal bagus dan mulus". Karena buat apa simpan jam tua kalau kondisinya sudah rusak. Definisi 'rusak' disini adalah kondisi diluar proses alami sebuah jam tua seperti dial rusak karena karat, casing rusak karena pernah penyok atau movement yang bermasalah terus. Jam oleh saja berusia tua tapi sebaiknya kondisi juga diperhatikan karena nilainya di masa depan akan lebih baik. Saya sendiri sekarang sudah mulai sangat selektif untuk membeli jam antik yang hendak saya koleksi karena saya tidak mau membuang uang banyak untuk sebuah jam antik yang kalau dipakai membuat kening saya (dan juga orang lain) berkerut karena kondisinya yang 'tidak menyenngkan' untuk dilihat. Tentu saja kriteria atau standar 'mulus dan bersih' bagi setiap orang berbeda-beda. Bisa jadi malah ada orang yang bangga dan senang dengan koleksinya yang terlihat kusam tapi karena memang itu terjadi karena proses alami dan bukan karena cacat.

Gambar jam dibawah adalah sebagian contoh dari kondisi jam tua yang menurut saya masih bagus dan mulus (menurut standar saya tentunya). Usia jam boleh tua, tapi saat dipakai tidak kalah penampilannya dengan jam yang usianya jauh lebih muda!

King SEIKO Day-Date produksi tahun 1974.

ROLEX Datejust Thunderbird Ref.1625, produksi awal tahun 70-an.

UNIVERSAL Polerouter Date gold capped, tropical dial, produksi tahun 60-an.

CITIZEN Chronograph Automatic, produksi pertengahan tahun 70-an

OMEGA Speedmaster "The Moonwatch" Cal.861 produksi tahun 1973

SEIKO Automatic Chronograph "The BIG Blue" Cal.6138. produksi tahun 1974.

Jumat, 29 Oktober 2010

LUMINOVA, Membuat Jam Bisa Bersinar dalam Gelap

Salah satu bentuk keindahan dari jam-jam keluaran baru adalah seperti gambar Rolex Explorer diatas: bisa bersinar dalam gelap. Pemakaian zat yang menyala dalam gelap seringkali digunakan untuk jam-jam sport profesional yang memang karena kebutuhan akan kemudahan membaca waktu dalam kondisi gelap. Zat yang berpendar dalam gelap itu sering disebut sebagai Luminova. Posting kali ini saya akan membahas secara singkat apa yang dimaksud dengan Luminova. Pada posting sebelumnya anda sudah membaca juga mengenai zat yang memiliki kemiripan fungsi dari Luminova yaitu Tritium, saat ini sudah tidak lagi digunakan.
Dari catatan sejarah kerajaan China, terutama pada masa kekaisaran Zhao Tai Zhong, zat Luminous pertama kali ditemukan di Jepang lebih dari 1000 tahun yang lalu. Dokumen itu menyebutkan lukisan sapi di dinding-dinding goa terlihat jelas dalam keadaan gelap gulita, sedangkan ketika matahari muncul, sapi-sapi itu seolah 'menghilang' dan akan muncul kembali ketika gelap. Berdasarkan penelitian, cat yang digunakan untuk melukis dinding itu merupakan cat/zat yang dibuat dari kerang laut. Karena itu tidak heran kalau banyak lukisan Jepang pada jaman dulu juga menggunakan zat ini agar lukisannya bisa 'menyala' atau terlihat dalam gelap.
Pada tahun 1908, cat luminous dengan kandungan radium dikembangkan untuk pertama kalinya pada jam tangan dan jam dinding yang diproduksi di Amerika Serikat. Jenis jam yang sama muncul dan diproduksi juga di Swiss pada tahun 1911. Di Jepang sendiri, Seiko mulai memproduksi jam dan jam lemari sejak tahun 1895, tapi tidak memproduksi jam dengan cat luminous sampai tahun 1927. dan jam lemari seiko pertama yang menggunakan zat ini diproduksi pada tahun 1931.
Luminova atau seringkali disebut sebagai 'photo-luminescent' atau 'afterglow' pigmen, adalah sebuah standar bagi para pembuat jam tangan sampai saat ini. Zat yang digunakan adalah non-radioactive dan non-toxic yang ditambahkan pada jarum dan indeks jam. Beberapa jenis jam bahkan melapisi dialnya dengan zat ini. Pemilik paten zat ini adalah sebuah perusahaan Jepang: Nemoto&Co. Ltd. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1941 sebagai produsen cat Luminous dan coating. Pada tahun 1960, Nemoto mengembangkan N-Luminous yang mengandung radium dan cepat menjadi populer pada saat itu. Karena adanya keprihatinan terhadap lingkungan, maka segala zat yang mengandung radioactive dikurangi termasuk produk Luminous yang diproduksi oleh Nemoto ini. Kemudian pada tahun 1993, Nemoto mengeluarkan produk innovative yang disebut sebagai LumiNova yang menjawab keinginan para envitomentalis yang meminta pengurangan zat radio active. Keunggulan LumiNova ini adalah kualitas nyala-nya yang lebih terang dan lama dibandingkan teknologi sebelumnya. Sehingga secara langsung para produsen jam beralih menggunakan LumiNova. Sehingga pada tahun 1998 pemerintah Swiss mengikat kontrak secara eksklusif dengan Nemoto sebagai supplier LumiNova ke para produsen jam di Swiss.

Kemudian berkembang sebuah nama baru yaitu: Super Luminova. nama ini baru gencar beredar setelah tahun 2000. banyak yang mengira bahwa ini adalah semacam 'edisi revisi' dari Luminova yang telah dikenal sebelumnya. Namun tidak ada penjelasan yang resmi mengenai pengertian dari Super Luminova tersebut. Bahkan para ahli akhirnya meyakini bahwa Super Luminova tidak lebih dari Luminova yang sebelumnya, hanya saja terkait branding maka disebut sebagai Super Luminova. Perusahaan joint venture nemoto di Swiss adalah RC Tritec Ltd dan membuka pabrik Luminova di Swiss dengan nama LumiNova AG Switzerland, karena itulah seringkali orang salah mengira dan menganggap bahwa Luminova adalah produksi Swiss padahal sebenarnya zat itu adalah murni buatan dan dipatenkan oleh perusahaan Jepang Nemoto. Saat ini zat Luminova berkembang menjadi banyak warna. Contoh dibawah adalah bagaimana zat Luminova berwarna orange diaplikasikan pada dial.




Kamis, 28 Oktober 2010

PATINA, yang Membuat Jam Antik Menjadi Berkarakter

Sejak beberapa tahun lalu saya mulai 'menggilai' jam-jam antik yang memiliki penampilan unik dan khas yaitu jam antik yang memiliki kesan dan penampilan 'belel', terutama pada beberapa bagian yang memang pantas dan wajar akan berubah belel, seperti jarum, indeks dan dial. Penggemar jam antik menyebut hal ini sebagai PATINA (dial, hands atau index). Bahkan ada beberapa orang penggemar jam antik yang hanya mengoleksi jam antik dengan Patina yang sudah terlihat. Semakin kuat perubahan, semakin senang.
Gambar sekumpulan Rolex diatas adalah koleksi seorang rekan penggemar Rolex antik. Gambar itu menunjukkan beberapa kadar/kualitas perubahan warna pada jam Rolex GMT. Perbedaan ada pada perubahan warna terutama pada indeks jam dan jarum, sedangkan warna dial sebenarnya juga berbeda tapi dalam foto tersebut tidak terlihat jelas.

Sebenarnya, arti PATINA itu sendiri apa sih? kalau merujuk pada deskripsi yang merupakan kesepakatan umum, Patina merupakan kondisi berubahnya warna (menjadi pudar atau bertambah gelap) dan penampilan suatu material (terutama logam) karena adanya pengaruh dari usia, tingkat oksidasi yang terjadi dan unsur senyawa kimia yang menjadi campuran logam (atau kayu) tersebut. Perubahan ini lebih dikarenakan pengaruh alami dan bukan dikondisikan. Karena itu Patina akan muncul pada barang-barang yang berusia tua. Nah, karena blog ini adalah blog tentang jam antik, maka saya akan bicara Patina pada jam antik saja.
Proses penuaan dengan 'munculnya' Patina pada sebuah jam biasanya terjadi hanya di beberapa bagian: indeks dan jarum (paling sering terjadi) dan dial. Seperti sudah disebutkan diatas, bahwa perubahan ini sangat tergantung pada senyawa kimia yang menjadi campuran warna yang digunakan pada permukaan jam. Pada gambar diatas adalah contoh sebuah GRAND SEIKO tua produksi tahun 60-an yang dialnya aging secara sempurna. Patina pada dial merubah warna dial yang semula (mungkin) satin atau kuning cerah, berubah warna menjadi kecoklatan bahkan malah cenderung ke arah ungu-kecoklatan. Kondisi asli jauuuhhh lebih cantik daripada foto, karena aura yang muncul sungguh unik sekaligus cantik. Informasi jam ini pertama kali saya dapat dari seorang pedagang kelilingan yang menelepon saya. Begini dia bilang. "Bang, tadi ada Seiko yang (maaf) pantatnya emas, tapi sudah saya jual karena plat (dial)nya udah 'rusak' parah!". Sungguh jengkel hati saya karena yang dia maksud plat 'rusak parah' adalah Patina yang cantik ini. Akhirnya jam ini bisa saya foto juga karena berhasil dibeli oleh teman saya.

Contoh berikut adalah model Patina yang lain karena unsur campuran dan material yang digunakan juga berbeda. Omega seamaster dari awal tahun 50-an ini awalnya berwarna hitam dan karena proses oksidasi yang terjadi sekian puluh tahun dan mungkin juga pemakaian yang kerap, membuat warna jam ini berubah menjadi kecoklatan. Kondisi warna dial seperti ini sering disebut sebagai 'tropical dial' (entah apa maksudnya..). Perhatikan gambar omega diatas, sabagai bukti bahwa dial jam itu bukan rusak adalah masih jelasnya semua tulisan pada dial yang berwarna emas. Sama sekali tidak ada yang hilang atau rusak. Beda misalnya kalau dial jam rusak dan berubah warna menjadi coklat, tulisan pada dial biasanya juga akan rusak atau hilang. Apakah anda bisa mendapatkan jam dengan kondisi dan warna dial yang serupa seperti ini? saya pikir tidak! karena coklat-nya warna dial jam itu adalah hasil perbuatan alam dan bukan dikondisikan oleh sebuah percobaan!

Bicara mengenai tropical dial, akhir-akhir ini banyak penggila jam antik semakin banyak yang mencari jam antik dengan tropical dial. Dan hebatnya, begitu ada yang menjual, harganya sudah sangat berbeda dengan jam yang sama dengan kondisi yang masih hitam. Kenapa jadi begitu dicari? ya karena populasinya yang sedikit! memanfaatkan situasi ini, Omega bahkan mengeluarkan satu tipe jam legendaris mereka "Speedmaster" dengan dial berwarna coklat. Waktu saya tanyakan kepada mereka melalui email, mereka katakan bahwa jam itu memang sengaja dibuat untuk memenuhi keinginan penggemar jam Speedmaster yang menginginkan dial "tropical", karena Speedmaster dengan tropical dial yang otentik sangat jarang ada dan kalau adapun harganya sangat tinggi. Untuk Speedy baru dengan dial coklat inipun Omega memasang harga yang lebih tinggi dari Speedy biasa. harga terakhir yang pernah saya tanya adalah Rp.42 juta.
Pertanyaan yang sering saya terima terkait dengan Patina ini adalah: Faktor apa yang menentukan cepat tidaknya sebuah Patina muncul pada sebuah jam?. Ada beberapa pendapat, saya sebut pendapat karena memang tidak ada yang pernah melakukan survey mengenai berapa lama sebuah patina itu keluar. Pendapat pertama mengatakan bahwa patina muncul pada indeks dan jarum (kita fokus ke bagian ini aja), karena eksposure yang intens terhadap sinar matahari. Pendapat lainnya mengatakan bahwa faktor yang paling nerpengaruh sebenarnya adalah faktor kelembaban udara yang intens dan statis selama beberapa lama. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa bukti dari beberapa orang. Seseorang yang diberi hadiah sebuah Rolex Submariner hanya menyimpan jamnya di SDB Bank. Dan setelah 10 tahun dia mulai hendak pakai jam itu, warna indeks dan jarum ternyata telah berubah menjadi kekuningan. Saya sendiri pernah ditunjukkan oleh teman sebuah Rolex GMT 16700 kristal yang lama sekali disimpan, karena teman saya ini nggak ngerti jam dan malas pakai sebab katanya "kalau nggak dipakai suka mati sendiri!". waktu ditunjukkan, jam itu warna indeks nya sudah mulai menguning, dan bagi saya itu malah menambah cantik!
Kalau pendapat saya, proses patina itu muncul adalah arena gabungan pendapat tersebut diatas (pendapat paling aman...). Mungkin perbedaannya ada pada kualitas patina yang muncul. Sebuah jam yang lama sekali disimpan dalam tempat tertutup dan lembab, cenderung perubahan warnanya akan lebih lembut dan merata sempurna ke seluruh bagian indeks dan jarum. Sedangkan kalau jam yang dipakai sehari-hari biasanya selain indeks berubah warna, kualitas bahan Lume pada jam akan tidak sebaik dan sehalus jam yang lama disimpan. Kondisi yang terjadi misalnya: ada jamur (kecil sekali) berwarna lebih gelap atau lume yang keropos atau tidak utuh lagi. Coba anda perhatikan foo Rolex Submariner 16800 diatas dan GMT master 1675 yang dibawah. Bagi saya Patina yang muncul sangat cantik dan masih tergolong 'lembut'. Mungkin jam-jam itu lebih banyak disimpan di lemari daripada dipakai. Tapi ada satu hal yang seringkali membuat 'gatal' dari penampilan jam tua seperti ini. Seringkali proses oksidasi atau kelembaban udara yang konsisten itu memakan korban, yaitu jarum jam. Bukan jarum jam keseluruhan tapi pada bagian yang unsur logamnya tidak ditutupi. Biasanya akan muncul jamur-jamur kecil atau warnanya berubah jadi seperti kotor. Patina akan muncul lebih dulu pada jarum, karena komposisi senyawa kimia antara indeks dan jarum ternyata berbeda, karena itu proses perubahan warnanya lebih dulu terjadi pada lume yang ada di jarum.

Pertanyaan menarik berikutnya adalah: sebenarnya jam antik dengan patina yang muncul apakah benar dikatakan cantik? atau sebenarnya itu malah seperti 'kanker'?
Saya selalu menjelaskan bahwa ada 2 golongan penggemar jam antik: pertama yang menyukai jam apa adanya, otentik dan dibiarkan tanpa disentuh. Sedangkan yang kedua lebih mementingkan penampilan dan kualitas dari jam antik itu. Bagi orang-orang kedua ini, kondisi jam antik yang re-furbished adalah sah-sah saja selama yang mengganti itu memang dengan original parts atau dilakukan oleh pemilik brand. Hal ini bertentangan dengan kelompok pertama. Bagi mereka, re-dial dan re-furbished adalah hal yang sangat dihindari, dengan anggapan kondisi sudah tidak otentik! bagi mereka buluk dan budhuk adalah sah-sah saja karena namanya juga jam antik. Suatu kali saya pernah meminta teman untuk memoles GMT 1675 saya. Kebetulan disamping saya ada seseorang penggemar Rolex antik dari luar. Saat dia tahu tujuan saya untuk memoles jam itu, dia langsung bilang "are you Crazy?!". Ternyata dia adlah penganut paham pertama dan dia sangat anti hal-hal seperti itu, bahkan jam dengan banyak gores pun dia tidak pernah mencoba untuk memolesnya. "That's why we call them Vintage watches, my friend!"
Kembali ke Patina. Bagi saya pribadi memang akan lebih menyenangkan memakai jam antik yang sudah menua dan keluar patinanya secara menyeluruh. Karena bagi saya, jam antik dengan patina menjadi lebih 'berkarakter', unik dan berwibawa. Sampai suatu kali saat bertemu dengan seorang rekan penggemar jam antik, dia bilang begini:"Rolex Sub elo kudu sungkem nih sama jam gue..". Saya awalnya bingung, tapi begitu dia tunjukkan jam yang dia pakai saat itu saya jadi mahfum. Siang itu dia pakai Rolex Red Submariner Ref.1680 dengan indeks dan jarum yang sudah menguning. Love it!


Jumat, 30 Juli 2010

TAG HEUER New "Inhouse" Calibre: The controversy of Cal.1887

Pada tanggal 2 Desember 2009, Tag Heuer dengan bangga memperkenalkan untuk pertama kalinya automatic chronograph Cal.1887 dengan pernyataan yang provokatif: The Calibre 1887 is the fifth movement designed 100% in-house by TAG HEUER". Pernyataan resmi dari brand ini ternyata menjadi bumerang bagi Tag Heuer sendiri. Beberapa blog dan forum pemerhati dunia horology secara antusias membahas launching caliber baru ini karena memang Tag Heuer dikenal sebagai sebuah merek yang sebelumnya sangat bergantung pada ETA/Valjoux untuk memasok movement bagi brand ini. Setelah dikaji secara mendalam, banyak keraguan akan pernyataan "100% in-house by TAG HEUER" karena konstruksi automatic chronograph cal.1887 ini menyerupai konstruksi chronograph movement dari Seiko. Banyak pertanyaan muncul dari pencinta horology terhadap caliber 1887 ini dan mereka yakin bahwa sebenarnya movement yang digunakan adalah originally di desain dan dibuat oleh Seiko. Forum seperti Whatuseek dan Timezone serta beberapa blogs mengenai horology ramai membicarakan kontroversi ini.

Untuk merespon pertanyaan dari banyak pihak mengenai originalitas cal.1887, akhirnya J.C babin selaku CEO angkat bicara dengan memberikan jawaban pada sebuah forum horology. Berikut adalah cuplikan dari pernyataan Babin:
"Hi, I'm J.C Babin the CEO of TAG HEUER, and YES, the new caliber 1887 is based on a SII (Seiko Instrument Inc.) TC78 platform developed and patented in 1997 and eversince produced in very limited quantities, apparently for Junghans and Seiko watches in Japan"
Dari pernyataan diatas terlihat bahwa TAG HEUER secara terang-terangan mengakui bahwa cal.1887 dibuat dengan basis movement Seiko yang dibuat oleh Seiko Instrument Inc TC78 platform, yang tidak saja sudah dipatenkan oleh Seiko tapi juga sudah diproduksi secara massal. Berikut adalah pernyataan Babin yang lain:
"..The caliber we propose and announced last week in London is a major evolution of this (seiko) platform even though I akcnowledge that overall construction may look similar at first glance. However, the TAG HEUER is much different in term of components, size and eventually performances.."

Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa sebenarnya TAG HEUER tidak sepenuhnya benar mendevelop dan mendesain ulang platform dari Seiko, tapi melakukan evolusi besar dengan cara mengganti parts, dimensi parts dan tentu saja meningkatkan performance. Sedangkan pengertian In-house secara umum adalah bahwa sebuah movement di desain, di develop dan dibangun sepenuhnya dalam perusahaan dan bukannya mengambil dasar movement lain untuk kemudian dibangun.

Ok. Rasa penasaran para penikmat horologi sudah terjawab dengan pernyataan resmi CEO TAG HEUER tersebut. Pertanyaan yang lebih menarik berikutnya adalah: Kenapa TAG HEUER memilih Seiko daripada produsen movement yang lain seperti ETA, Perret, Lemania dll? sedangkan nama Seiko di mata dunia barat tetaplah sebagai jam 'kelas dua' karena mereka berasal dari Asia.
Pencarian cikal bakal movement untuk Cal.1887 dimulai TAG HEUER sejak tahun 2006. Mereka melihat, menganalisa dan menguji coba sekian banyak automatic chronograph movement yang beredar di pasar dan yang banyak digunakan oleh para produsen jam. Dan (menurut mereka) ternyata tidak ada yang memenuhi kriteria yang mereka cari yaitu: high-volume production, ketangguhan, perawatan yang mudah dan biaya pembuatan yang reasonable (mungkin maksudnya: murah). Karena pencarian yang tidak membuahkan hasil, akhirnya mereka berencana membuat sendiri automatic chronograph yang sesuai dengan kriteria diatas, dan keluarlah cal.1887. Namun belakangan diketahui dan diakui bahwa TAG HEUER tetap saja tidak membuat automatic chronograph movement sendiri, melainkan membeli basis-nya dari Seiko.

Beberapa penggemar Seiko mencoba untuk menganalisa konstruksi cal.1887 untuk melihat kecocokannya dengan automatic chronograph movement Seiko, dan ternyata yang konstruksinya identik adalah Automatic chronograph movement Cal.6S37 yang saat ini digunakan untuk Seiko Flightmaster. Banyak kesamaan dari kedua movement tersebut dan perbedaan ada pada dimensi, modifikasi parts dan finishing. Ini memang sesuai dengan deskripsi Babin bahwa mereka melakukan banyak perubahan pada basik movement yang mereka pakai untuk meningkatkan performa dan mempercantik penampilan.

Tidak ada yang salah dengan mengadopsi movement pabrikan lain untuk digunakan dalam jam TAG HEUER, bahkan brand ini sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan meningkatkan performa dan realibility dari movement Seiko yang menjadi basis movement mereka. Mungkin yang 'agak kurang tepat' adalah cara marketing mereka yang menyatakan bahwa jam ini memiliki 100% in-house movement. terlepas dari kontroversi pasca launching ini, TAG HEUER tetaplah sebuah brand yang kuat dan memiliki kualitas baik serta memiliki banyak penggemar fanatik.

Jumat, 25 Juni 2010

Perbedaan Rolex Datejust 160X dan 1601X

ROLEX Datejust adalah tipe Rolex yang paling banyak dijumpai dan mudah dikenali karena desainnya yang klasik dan tidak banyak berubah sejak tahun 50-an sampai sekarang. Kalau bicara Rolex vintage, jenis Rolex Datejust yang paling banyak dibicarakan, ditanyakan dan diperjual-belikan adalah tipe 160X dan 1601X. Dan saya seringkali mendapat pertanyaan bagaimana membedakan ciri-ciri dari kedua jenis Rolex ini. Dalam posting kali ini, saya akan coba jelaskan secara singkat perbedaan prinsip antara beberapa jenis Rolex datejust tersebut dan varian-varian yang ada.
Datejust 1601 Steel.
Ref.1601 menunjukkan bahwa Rolex ini masih menggunakan automatic movement yang belum menggunakan feature quick set date. Movement yang digunakan ada yang sudah memiliki hacking mechanism (jarum detik berhenti saat crown ditarik) maupun yang belum. Biasanya movement yang banyak digunakan adalah Cal.1560 dan 1570 (generasi lebih baru).

Ciri yang paling mudah dikenali dari Rolex ref.1601 adalah desain dial yang pada pinggirnya dibuat lebih rendah (seperti selokan). Karena bentuk ini menyerupai 'piring', maka banyak orang yang menyebutnya sebagai 'pie pan dial'. Bagi para penggemar 1601, desain dial seperti membuat tampilan Rolex lebih 'berkarakter' dan juga 'seksi'. Ref.1601 selalu memiliki bezel bergerigi yang terbuat dari emas dan rolex jenis ini memiliki 2 varian yaitu material steel dan Yellow Gold (Kombinasi) dan steel dengan bezel terbuat dari White gold. Gambar di bawah adalah contoh Rolex ref.1601 dengan bezel terbuat dari White gold dan rantai jubille terbuat dari steel. Silahkan klik gambar untuk pembesaran gambar.


Datejust 16014 Steel
Ref.16014 (5 digit) menunjukkan bahwa tipe Datejust ini sudah menggunakan movement yang berbeda dan sudah menggunakan feature quick set date. Rolex Datejust dengan nomor referensi 5 digit diproduksi mulai pertengahan tahun 70-an. Perbedaan terlihat dari desain dial yang rata di semua permukaan, sehingga tidak se'seksi' saudara tuanya 1601. Bezel (yang bergerigi) juga terbuat dari White Gold. Baik ref 16014 maupun 1601 masih sama-sama menggunakan mika untuk kaca-nya dan Rantai model Jubille (mayoritas).

Datejust Ref.1603 All Steel
Bagi orang yang kurang menyukai bezel bergerigi, Rolex juga menyediakan ref.1603 yang memiliki bezel tidak bergerigi halus dan terbuat dari steel. Karena ref.1603 masih 4 digit maka desain dial sama dengan 1601, yaitu pie-pan. Rolex jenis ini semuanya terbuat dari steel. jadi kalau anda ditawari Rolex 1603 tapi geriginya berwarna kuning, itu ada 2 kemungkinan: tutup belakang tertukar dengan ref.1603, atau bezel yang steel ditukar dengan bezel kuning mirip 1601. Karena memang desain bezel ini dapat diipertukarkan.


Datejust Ref.1601, Kombinasi Steel dan YG
Varian lain dari 1601 adalah kombinasi, yaitu penggunaan material emas (biasanya 14K) dan steel. Ciri paling mudah adalah dengan melihat rantai jubille-nya. Bagian tengah rantai terbuat dari emas dan selebihnya steel. Material emas disini adalah lempengan yang kemudian ditekuk dan bukan solid.

Gambar dibawah adalah contoh varian dari Rolex 1601 Datejust kombinasi. Varian untuk indeks ada banyak macam. Dari desain balok kuning seperti dibawah atau dengan variasi garis hitam. Warna jarum biasanya juga berwarna kuning karena untuk menyelaraskan dengan warna bezel yang terbuat dari emas. Crown juga harus terbuat dari emas.

Datejust 16013, Kombinasi Steel dan Yellow Gold
Dan gambar dibawah ini adalah contoh varian dari versi generasi selanjutnya dari 1601. Rolex mulai membuat pembedaan nomor reference untuk bezel yang menggunakan material White gold (ref.16014) dan yellow gold (16013). Khusus untuk tipe 16013 sudah ada yang menggunakan material 18K YG.
Dari 2 jenis Rolex kombinasi (1601 dan 16013) ini dapat dilihat perbedaannya dalam gambar di bawah. Semoga informasi ini dapat sedikit membantu anda dalam mengidentifikasi sebuah Rolex Datejust.